Lipsus Kasus Cerai di Halsel
Penyebab dan Dampak Perceraian di Halmahera Selatan Menurut APRI: Faktor Jarak Juga Termasuk
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bacan Selatan ini juga menyebut masalah lingkungan turut mempengaruhi Pasturi bercerai
Penulis: Nurhidayat Hi Gani | Editor: Munawir Taoeda
Ringkasan Berita:1. Berdasarkan data Pengadilan Agama Labuha, ada 196 pasangan suami istri memilih bercerai
2. Pihak ketiga dalam hal intervensi keluarga jadi salah satu pemicu perceraian
3. Jumlah KDRT di Halmahera Selatan cukup rendah
TRIBUNTERNATE.COM, BACAN - Ketua Bidang Hukum dan Advokasi Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI) Maluku Utara Ongky Nyong, menyoroti jumlah perkara perceraian di Halmahera Selatan.
Berdasarkan data Pengadilan Agama Labuha, ada 196 pasangan suami istri (Pasutri) memilih bercerai, jumlah ini terhitung dari Januari-September 2025.
Menurut Ongky, ada beberapa penyebab sehingga Pasturi memilih bercerai dari pada mepertahankan rumah tangga.
Di antaranya tidak sepaham terhadap hak dan kewajiban suami istri, pengaruh pihak ketiga dalam hal intervensi keluarga dan perselingkuhan serta ketidakpuasan pelayanan.
Ia juga sering menemukan faktor jarak juga. Misalnya suami kerja di tambang, kemudian tidak dapat cuti.
"Nah disini ada problem nafkah batin," jelas Ongky saat dihubungi Tribunternate.com, Kamis (16/10/2025).
Sedangkan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sebetulnya di Halmahera Selatan itu sangat rendah.
"Tapi KDRT ini memang kebanyakan itu di psikis, karena dapat mempengaruhi nafkah batin," sambungnya.
Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bacan Selatan ini juga menyebut masalah lingkungan turut mempengaruhi Pasturi bercerai.
"Mislanya pergaualan oleh suami atau istri di luar rumah. Itu juga menjadi faktor yang menyebabkan perceraian," jelasnya.
Sementara untuk dampak perceraian, Ongky mengatakan bahwa status sosial pasca cerai cenderung dianggap berkonotasi negatif. Misalnya ada pelebelan status 'janda' dan 'duda'.
Padahal perceraian tidak selamanya negatif. Dalam kondisi tertentu, lanjut dia, perceraian menjadi solusi karena bagian dari ibadah.
"Perceraian dalam rumah tangga juga jalan terbaik ketika tidak ada lagi kompromi untuk bangun rumah tangga."
"Jadi perceraian tidak selamanya negatif, karena perpisahan yang bernilai ibadah hanya di situ," tuturnya.
Perceraian juga berdampak kepada anak-anak mereka. Kebanyakan yang ditemukan, adalah kegagalan pembinaan mental anak.
"Ada juga dampak terhadap pembagian harta gono-gini antara suami dan istri. Ini biasanya sengketanya panjang, "tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/17032023_ongkonyong.jpg)