Rabu, 6 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Pemprov Malut

Gubernur Sherly Laos Ajak Saudagar Bugis Makassar Investasi di Maluku Utara, Prioritas Sektor Pangan

Gubernur Sherly Tjoanda Laos mengajak saudagar Bugis berinvestasi di Maluku Utara yang mencatat pertumbuhan ekonomi

Tayang:
Dok: Biro Adpim Setda Pemprov Malut
PROGRAM - Gubernur Malut Sherly Laos. Ia mengajak saudagar Bugis berinvestasi di Maluku Utara yang mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi nasional pada 2025 sebesar 34 persen, didorong hilirisasi nikel, Jumat (27/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  1. Sherly Laos mengajak saudagar Bugis berinvestasi di Maluku Utara yang mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi nasional pada 2025 sebesar 34 persen, didorong hilirisasi nikel.
  2. Maluku Utara masih bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah hingga 80 persen, sehingga sektor peternakan, logistik, dan perdagangan dinilai sangat potensial untuk dikembangkan.
  3. Dengan potensi besar di sektor tambang, perikanan, dan perkebunan, pemerintah membuka peluang investasi luas.

TRIBUNTERNATE.COM – Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, mengajak para saudagar Bugis untuk berinvestasi di daerahnya yang tengah mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi.

Ajakan itu disampaikan saat ia memaparkan success story dalam forum PSBM XXVI di Hotel Claro Makassar, Kamis (26/3/2026).

Dalam paparannya, Sherly menyebut pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada 2025 menjadi yang tertinggi di Indonesia.

Baca juga: Permukiman Baru Kawasi Jadi Model Hunian Inklusif dan Berkelanjutan di Maluku Utara

“Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara year on year mencapai 34 persen, tertinggi se-Indonesia. Ini terjadi karena hilirisasi nikel,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Maluku Utara saat ini memproduksi sekira 40 hingga 50 persen nikel Indonesia, bahkan sekira 20 persen dari produksi nikel dunia.

Meski demikian, ia mengakui pembangunan di daerahnya masih menghadapi sejumlah tantangan. Terutama dalam pemerataan ekonomi dan kesiapan sektor pendukung.

Ia menyebut kebutuhan pangan dan logistik di Maluku Utara masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.

“Sekira 80 persen kebutuhan Maluku Utara masih dipasok dari luar, terutama dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan,” katanya.

Karena itu, ia mengundang para pengusaha Bugis yang memiliki pengalaman di sektor perdagangan, pelayaran, logistik, hingga peternakan untuk melihat langsung peluang usaha di wilayahnya.

Sherly menilai sektor pangan menjadi salah satu peluang investasi yang sangat menjanjikan.

Dengan jumlah penduduk sekira 1,4 juta jiwa, kebutuhan ayam di Maluku Utara mencapai 25.000 ton per tahun.

Sherly juga menyinggung potensi besar komoditas kelapa di Maluku Utara. Saat ini produksinya mencapai sekitar 1,5 miliar butir per tahun, namun produktivitas lahan dinilai masih bisa ditingkatkan.

Ia menyebut, satu hektare kebun kelapa saat ini rata-rata hanya ditanami 70 hingga 80 pohon, padahal idealnya bisa mencapai 120 pohon. Seiring peningkatan kualitas bibit dan pembangunan industri pengolahan, produksi kelapa diproyeksikan terus meningkat.

Saat ini dua pabrik pengolahan kelapa telah beroperasi dan satu pabrik lainnya masih dalam tahap pembangunan. Produk yang dihasilkan antara lain coconut milk dan desiccated coconut yang diekspor ke China.

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved