Sabtu, 25 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Opini

Menjemput Ruh Para Sultan di Kursi Bioskop

​Empat kursi kosong di panggung, tapi "empat ruh besar" seolah hadir memenuhi ruangan. ​Saya tertegun.

Istimewa
OPINI - Saat lampu bioskop meredup, sejarah bangkit dari sunyi—para sultan kembali bersuara di panggung XXI Ternate. Bukan sekadar monolog, ini adalah panggilan ruh para pejuang yang mengetuk kesadaran generasi hari ini.” 

Oleh : M.Guntur Alting

​Ada yang tak biasa di XXI Jati Land. Biasanya, layar lebar itu memutar mimpi-mimpi dari Hollywood atau drama cinta dari Jakarta. 

Tapi malam itu, udara Ternate terasa berbeda. Ada getaran yang lebih tua dari seluloid, lebih dalam dari sekadar hiburan.

​Empat kursi kosong di panggung, tapi "empat ruh besar" seolah hadir memenuhi ruangan.

​Saya tertegun. Di hadapan saya, sejarah tidak lagi hadir sebagai barisan angka tahun yang membosankan di buku teks sekolah. 

Sejarah hadir sebagai monolog. Ia hadir sebagai desah napas, sebagai tetesan keringat, dan sebagai teriakan sunyi dari mereka yang pernah menghalau badai kolonial di tanah para raja.

Itulah deskripsi yang coba saya bangun melalui "imaginasi sosiologi(sosiological imagination) Wright Mills, ketika membaca jumpa pers jelang "Monolog Pahlawan Nasional: Jejak Perjuangan dari Moloku Kie Raha," yang linknya dikirim oleh Pemred Pikiran Ummat Usman Sergie.

​-000-

​Amar Ome, sang sutradara yang juga akademisi di Unkhair, tidak sedang bermain-main. Ia tidak memilih film kolosal dengan ribuan figuran.

Ia memilih Monolog.

​Dalam dunia kepenulisan, kita tahu bahwa monolog adalah bentuk pengakuan yang paling intim. Ia adalah dialog antara seseorang dengan nuraninya sendiri. 

Ketika Azis Hakim memerankan Sultan Babullah, ia tidak hanya sekadar menghafal naskah. Ia sedang melakukan perjalanan spiritual ke masa lalu. 

Ia membawa memori ke atas panggung, mengubah panggung bioskop menjadi medan laga emosional.

​Saya bisa membayangkan bagaimana Asrul NL bergulat dengan karakter Sultan Nuku. Menjadi "Prince of Liberty" bukan perkara kostum yang gagah.

Ini tentang bagaimana memindahkan "napas panjang" sang penguasa laut itu ke dalam dada seorang aktor. Ini adalah sebuah pertaruhan jiwa.

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved