Jumat, 24 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Opini

Menjemput Ruh Para Sultan di Kursi Bioskop

​Empat kursi kosong di panggung, tapi "empat ruh besar" seolah hadir memenuhi ruangan. ​Saya tertegun.

Istimewa
OPINI - Saat lampu bioskop meredup, sejarah bangkit dari sunyi—para sultan kembali bersuara di panggung XXI Ternate. Bukan sekadar monolog, ini adalah panggilan ruh para pejuang yang mengetuk kesadaran generasi hari ini.” 

-000-

​Lalu ada Syahrir Ibnu, sahabat saya. Seorang sosiolog yang mendadak harus menjadi Salahuddin Bin Talabuddin.

​Di sini, sains bertemu dengan seni. Syahrir tahu benar bahwa Salahuddin bukan simbol kekuasaan politik semata, melainkan simbol perlawanan moral. 

Ia adalah guru ngaji yang keyakinannya lebih tajam dari bayonet Belanda. Lewat Syahrir, kita akan melihat bahwa sejarah bukan hanya milik para pemilik mahkota, tapi milik mereka yang memiliki iman yang tak tergoyahkan.

​-000-

​Yang membuat hati saya sedikit berdesir adalah daftar penulis naskahnya. 

Ada nama Saiful Bahri Ruray, Asgar Saleh, hingga Herman Oesman. Dan tentu saja, almarhum Irfan Ahmad.

​Membaca nama Irfan Ahmad dalam karya ini seperti melihat sebuah wasiat kebudayaan. 

Almarhum adalah seorang penjaga gawang ingatan. Bahwa naskah terakhirnya dipentaskan di panggung megah ini adalah sebuah "penghormatan" yang layak. 

Sejarah memang selalu punya cara untuk menghargai para pencatatnya. 

Mereka yang telah tiada tetap bicara lewat diksi yang tajam dan menggugah.

​-000-

​Mengapa pementasan ini penting bagi kita hari ini?

​Di tengah riuhnya "ilusi pencitraan" dan bisingnya politik praktis yang sering kita baca di media, monolog ini hadir sebagai oase. 

Ia mengingatkan kita bahwa identitas Maluku Utara bukan dibangun di atas baliho, melainkan di atas keringat dan darah para pahlawan nasional ini.

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved