Rumput Laut Indonesia Disulap Jadi Kancing Baju dan Kacamata di Australia
Melalui teknologi bioplastik, rumput laut hasil budidaya petani Indonesia diolah menjadi berbagai produk seperti kancing baju, bingkai kacamata
TRIBUNTERNATE.COM - Rumput laut Indonesia kini tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan makanan, tetapi juga menjadi bahan baku produk ramah lingkungan bernilai tinggi di Australia.
Melalui teknologi bioplastik, rumput laut hasil budidaya petani Indonesia diolah menjadi berbagai produk seperti kancing baju, bingkai kacamata, kain, hingga komponen interior kendaraan.
Potensi ekonomi yang diperoleh petani pun cukup menjanjikan. Dalam satu siklus panen selama 45 hari, petambak ikan atau udang yang menanam rumput laut dapat memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp7 juta hingga Rp8 juta.
Baca juga: Murid Dilarang Bermedsos, Mahasiswa Cari Pacar Kutu Buku dan Tinggalkan Smartphone
Hal itu terungkap dalam kunjungan delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program ke Australia Barat yang difasilitasi Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia.
Pada hari kedua kegiatan, delegasi bertemu dengan Menteri Pembangunan Internasional, Menteri Usaha Kecil, dan Menteri Urusan Kemajemukan Australia, Anne Aly, di Perth.
Anne Aly yang merupakan migran asal Mesir dan muslimah pertama yang menjadi menteri dalam sejarah Australia menyampaikan pentingnya kemitraan antara Australia dan Indonesia.
"Sebagai seorang migran, dan juga sebagai seorang Muslimah, kita cukup dewasa sebagai sebuah negara untuk mengembangkan kemitraan semacam ini dengan negara mayoritas Muslim terbesar di dunia, Indonesia. Itu sangat berarti bagi saya pribadi. Sebagai Anggota Parlemen dan sebagai menteri, itu sangat berarti bagi saya dalam hal hubungan antarmasyarakat," ujar Anne.
Anne mengaku telah mengunjungi Jakarta dan Surabaya serta melihat berbagai proyek kerja sama kedua negara, terutama di bidang manajemen bencana dan penyandang disabilitas.
Terkait perannya sebagai Menteri UMKM, Anne menyebut masih banyak peluang kolaborasi yang dapat dikembangkan bersama Indonesia, khususnya dalam pemberdayaan perempuan, disabilitas, dan sektor kesehatan.
Rumput Laut Pengganti Plastik
Sebagai pengganti jadwal usai makan siang, delegasi berkunjung ke kawasan pantai, di pinggir laut West Coast Drive, Watermas Bay. Matahaari Terik, namun cuaca sejuk, sekitar 14 derajat Celsius. Kami jogging usai makan siang, sebelum pertemuan formal. Lalu, diskusi dengan manajemen perusahaan start-up yang beroperasi sejak 2021, Uluu. Disambut Michelle Wheeler, Kepala Komunikasi Uluu, dan terhubung virtual melalui layar dalam jaringan (online) dengan CEO Uluu Indonesia Dian Kurniawati, yang tengah berada di Indonesia. Perusahaan ini memang menggunakan brand yang sangat singkat, Uluu.
Michelle presentasi bagaimana sebaran sampah plastik telah mencemari daratan, Sungai dan lauatan. Sampah yang susah terurai. Kemudian dia menjelaskan, Uluu telah menemukan teknologi baru mengolah rumput laut pengganti plastik. “Kualitasnya lebih bagus, dan harganya lebih murah,” kata Michelle, yang punya pengalaman 15 tahun sebagai wartawan sains dan teknologi.
Delegasi kemudian dibawa berkeliling kantor, melihat proses produksi rumput laut, yang diimpor dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. Michelle memperlihatkan mata rantai proses rumput laut, termasuk menyaksikan rumput laut kering warna kuning keemasan dalam bungkusan bal plastik.
Hasil akhir produksinya, butiran-butiran kancing baju, frame atau bingkai kacamata –yang bentuknya mirip dengan kacamata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Stella Christie. Michelle menekuk frame kacamata yang sangat elastis. Juga tampak lembaran kain, dan semacam bagian dari dashboard mobil.
Dian Kurniawati menjelaskan, rumput laut ditanam petani/petambak yang biasa pelihara ikan bandeng, atau ikan bawal atau udang. Sembari bertambak, menanam rumput laut. ”Masa panen rata-rata 45 hari. Selain mendapat hasil panen dari ikan atau udang, juga dapat panen rumput laut. Hasil sekali panen, kira-kira Rp 7 juta sampai Rp 8 juta,” kata Dian.
Uluu membeli rumput laut dalam standar kualitas tinggi dalam harga yang bagus. Menurutnya, Uluu menampung rata-rata 10 ton rumput lauat dari Indonesia.
Proses transformasi rumput laut menggabungkan teknik budidaya pesisir tradisional dengan bioteknologi canggih. Petani memanen rumput laut Gracilaria, mencucinya dengan air laut, lalu menjemurnya di bawah terik matahari hingga kadar airnya susut. Rumput laut kering dikirim ke pabrik pengolahan. Diekstrak menggunakan enzim alami untuk memecah dinding selnya, mengubah karbohidrat kompleks (agar/karagenan) menjadi cairan gula sederhana. Sisa ampasnya yang kaya protein dipisahkan untuk dijadikan pakan ternak/ikan.
Cairan gula tersebut dimasukkan ke dalam reaktor bioreaktor besar yang menampung mikroba air asin khusus. Mikroba ini memakan gula rumput laut tersebut dan mengubahnya menjadi energi cadangan di dalam sel tubuh mereka. Energi cadangan berbentuk lemak alami inilah yang disebut PHA (Polyhydroxyalkanoates) —bahan dasar bioplastik. Ketika mikroba sudah jenuh dengan PHA, mereka dialiri air tawar. Perbedaan tekanan osmosis membuat dinding sel mikroba pecah secara alami. Bubuk PHA murni kemudian dipanen tanpa pelarut kimia beracun, dilelehkan, dan dicetak menjadi pelet biopolimer (butiran kecil siap cetak).
Pelet PHA ini dikirim ke pabrik manufaktur garmen/kancing konvensional. Pelet dimasukkan ke dalam mesin cetak injeksi (injection moulding), dilelehkan pada suhu tertentu, lalu disemprotkan ke dalam cetakan berbentuk kancing baju. Kancing mendingin, mengeras, dan siap dijahit ke pakaian.
Perdagangan Indonesia-Australia
Terkait bilateral di bidang perdagangan, delegasi berbincang dengan Indonesianis Profesor Edward Buckingham. Ia guru besar manajemen Monash Business School, Melbourne, sekaligus Program Director untuk Master in Business Innovation (MBI) di Monash University Indonesia di BSD, Tangerang. Edward menjabat Chair Victoria Chapter Australia Indonesia Business Counsil (AIBC). Ia juga pengusaha.
Menurutnya, hubungan kedua negara saat ini berjalan sangat baik. Relasi bagus ini membuat perdagangan terjalin, baik oleh antarpemerintah, government to government, maupun swasta. Contoh, Presiden Prabowo menyetujui ekspor pupuk urea ke Australia. Sebaliknya, Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese mengirim LPG ke Indonesia.
Pasca-perang Iran vs Israel dan Amerika Serikat meletus 28 Februari, pasokan bahan bakar minyak dan gas minyak cair atau liquefied petroleum gas (LPG) dari Timur Tengah terganggu oleh karena ketidakamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Untuk mendapatkan tambahan impor LPG, pemerintah mendatangkannya dari Australia. Dikutip dari Kompas.com, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan tambahan pasokan LPG berjumlah sebanyak dua kargo. Impor tersebut diperkirakan tiba Mei atau pada paling lambat Juni 2026. Djoko mengungkap tambahan pasokan LPG tersebut berasal dari Pemerintah Jepang melalui fasilitas produksi Inpex Corporation Ltd. yang berada di Australia.
Pendapat senada disampaikan Professor L. Gordon Flake, pakar hubungan internasional, kebijakan luar negeri, dan geopolitik terkemuka di kawasan Indo-Pasifik. Gordon, warga Amerika, telah pindah ke Australia sejak 2014. Ia Chief Executive Officer (CEO) Perth USAsia Centre yang berbasis di The University of Western Australia (UWA), Perth.
Gordon, mengatakan hubungan Indonesia dan Autralia sedang baik-baiknya. Ia mencontohkan di bidang perdagangan, terjadi kerja sama pemerintah ke pemerintah (government to government), ketika situasi perang di Timur Tengah sedang berkecamuk, dalam hal ini, Indonesia terdampak untuk memperoleh bahan bakar minyak dan gas bumi.
“Hubungan diplomasi Australia dengan Indonesia saat ini big-deal. Sedang baik-baiknya,” ujar Prof Gordon dalam perbincangan di kantor Perth USAsia Centre, sebuah lembaga pemikir (think tank) non-partisan yang bertempat di kampus The University of Western Australia.
Menurutnya, berdasar hubungan bilateral kedua negara, relasi Jakarta dengan Canberra berjalan mulus saat ini. Selain di sisi perdagangan, secara geopolitik, kondisi kedua negara pun adem-ayem, tidak terjadi gejolak.
Sejak menakhodai Perth USAsia Centre, Gordon mengalihkan episentrum kerjanya dari Washington ke Perth, kota yang sering disebut sebagai Ibu Kota Samudra Hindia bagi Australia. Kegiatannya di dunia internasional berfokus pada Gordon aktif memfasilitasi dialog tingkat tinggi yang menghubungkan pembuat kebijakan, diplomat, dan pebisnis dari Australia, Amerika Serikat, Asia Timur (Jepang dan Korea Selatan), serta Asia Tenggara (termasuk Indonesia).
Kebebasan Pers
Hari terakhir kegiatan degelasi, mengikuti acara dialog editor senior dari dua negara. Para peserta sharing megenai situasi dan kondisi industri pers di dua negara. Disrupsi media atas kehadiran teknologi yang semakin canggih, termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI) yang menjadi tantangan industri/bisnis pers.
Di Australia, surat kabar masih eksis. Koran maupun majalah mingguan masih dibaca konsumen. Jumlahl lembar koran masih 40 halaman. Pemasang iklan pun masih lumayan besar. Website online pun demikian. Secara umum, sumber pendapatan perusahaan media berasal dari subscription atau pembaca berlangganan. Lebih dari 50 persen sumber pendapatan adalah atas kerelaan pembaca membeli koran maupun website. Setiap berita eksklusif (indepht reporting) online, wajib berbayar barulah aksesnya dibuka kepada pembaca. Sumber pendapatan lainnya dari iklan swasta, seperti perbankan, elektronik, ponsel, dan otomotif. Sekitar 10 persen kontribusi iklan pemerintah.
Pun dibahas, adanya ancaman atau tekanan terhadap kebebasan pers yang datang dari bagian kepentingan suprasturktur politik, seperti pendengung (buzzer), elite partai politik yang sedang berkuasa, petinggi TNI/Polri, maupun perusahaan milik negara (BUMN) mitra media selaku pemasang iklan. Peserta dialog bersepakat, demi keberlanjutan media, penguatan jurnalisme berkualitas harus dilakukan dengan memastikan liputan akurat dari lapangan untuk mengatasi agragasi AI. Bukan mengandalkan mengolah informasi yang telah beredar di media sosial.
Wartawan senior dari Negeri Kanguru diwakili Asia Pacipic Correspondent Surat Kabar The Australian Amanda Hodge, Head of Editorial Innovation The Corversation Ashlyne McGhee, ABC Asia Pacific Newsroom Helena Souisa, National Editor The Age dan Sydney Morning Herald David King, serta Guardian International Desk Kate Lamb.
Delegasi editor senior dari Indonesia Pemimpin Redaksi IDN Times Uni Lubis, Pemimpin Redaksi SCTV dan Indosiar yang juga Ketua Forum Pemred Retno Pinasti, Domu D Ambarita dari Tribun Network, Wakil Pemimpin Redaksi Detikcom Fajar Pratama, dan Wakil Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Kartika Sari. (*)
(Tribunnetwork.com/domu d ambarita)
| Murid Dilarang Bermedsos, Mahasiswa Cari Pacar Kutu Buku dan Tinggalkan Smartphone |
|
|---|
| Penduduk Majemuk, Biaya Terjangkau dan Kampus Kualitas Dunia, Tempat Favorit untuk Kuliah |
|
|---|
| Waspada Pemerasan Sindikat Penipu, Modus Mengaku Wartawan Tribun Tipu Warga di Ternate |
|
|---|
| MoU dengan V-Green, Tribun Network Jadi Lokasi Pemasangan Charging Station VinFast di Indonesia |
|
|---|
| Perkuat SDM, Dubes Austria Jajaki Kerja Sama Pendidikan Vokasi di Malut |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Hasil-Produksi-Rumput-Laut_kacamata.jpg)