Virus Corona
Demi Kebutuhan Hidup, PSK Thailand Terpaksa Ambil Risiko Saat Lockdown
Lockdown yang diterapkan di Thailand membuat keramaian menghilang, dan Pekerja Seks Komersial ( PSK) terpaksa ambil risiko demi penuhi kebutuhan hidup
Temannya yang bernama Alice PSK transgender lain, juga angkat kaki dari bar menuju pinggir jalan.
"Aku dulu menghasilkan uang yang cukup, kadang-kadang 300-600 dollar AS seminggu (sekitar Rp 5 juta sampai 9,8 juta) seminggu," kata Alice.
"Tetapi ketika bisnis ditutup, penghasilanku berhenti juga."
"Kami melakukan ini karena kami miskin. Jika kami tidak dapat membayar hotel, mereka akan mengusir kami," imbuh Alice.
• Positif Corona Setelah Dimakamkan, Pejabat yang Berkontak dengan Bupati Morowali Utara Diminta Lapor
• Fakta-fakta Keluarga Pasien PDP Covid-19 di Makassar yang Ngamuk Ingin Kebumikan Sendiri Almarhum
Berisiko tinggi
Risiko yang sudah tinggi dari bekerja sebagai PSK kini bertambah dengan risiko dari virus corona.
Para PSK Thailand banyak yang pulang ke rumah beberapa minggu sebelum pemerintah memberlakukan penguncian.
Ada kekhawatiran krisis berlangsung selama berbulan-bulan, membuat kerugian miliaran dollar AS dari sektor ekonomi dan membuat para pekerja di sektor informal melarat.
Mereka termasuk PSK, yang ilegal tapi diterima secara luas di kehidupan malam Negeri "Gajah Putih".
Ada kekhawatiran skema darurat pemerintah Thailand untuk memberikan 5.000 baht (sekitar Rp 2,5 juta) ke jutaan pengangguran baru selama 3 bulan ke depan, akan mengecualikan PSK.
Sebab, mereka tidak masuk dalam kategori pekerja formal.
The Empower Foundation sebuah kelompok advokasi untuk PSK di Thailand mengatakan, tempat-tempat hiburan menghasilkan sekitar 6,4 miliar dollar AS (sekitar Rp 104,8 triliun) setahun, yang banyak di antaranya menjajakan seks dalam berbagai bentuk.
Wanita menjadi yang paling menderita dari wabah virus corona ini, katanya.
Banyak dari mereka adalah ibu dan pencari nafkah utama keluarga.
Mereka dipaksa jadi PSK karena kurangnya kesempatan kerja atau gaji lulusan rendah.
Kelompok tersebut telah menulis surat terbuka pada pemerintah, mendesak untuk "menemukan cara memberi bantuan ke semua pekerja yang kehilangan penghasilan mereka."
"Menurutku pemerintah sangat lambat. Mereka tidak peduli dengan orang-orang seperti kami yang bekerja di industri seks," kata Alice.
"Kami lebih takut tidak bisa makan daripada (terkena) virus," pungkasnya. (Kompas.com/Aditya Jaya Iswara)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "PSK Thailand Saat Lockdown, Terpaksa Ambil Risiko demi Kebutuhan Hidup"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/ilustrasi-miss-v.jpg)