Gara-gara Perubahan Iklim, Es di Bumi Mencair Lebih Cepat Dibandingkan Tahun 1990
Menurut penelitian terbaru, perubahan iklim yang mendorong kenaikan suhu global, membuat es di bumi mencair lebih cepat jika dibandingkan dengan perte
TRIBUNTERNATE.COM - Menurut penelitian terbaru, perubahan iklim yang mendorong kenaikan suhu global, membuat es di bumi mencair lebih cepat jika dibandingkan dengan pertengahan 1990-an.
Secara keseluruhan, diperkirakan 28 triliun metrik ton es telah mencair dari es laut, lapisan es, dan gletser dunia sejak pertengahan 1990-an.
Setiap tahunnya, laju pencairan bertambah sekitar 57 persen lebih cepat daripada tiga dekade lalu.
Hal ini dilaporkan oleh para ilmuwan dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Senin (25/1/2020) di jurnal The Cryosphere.
“Sungguh mengejutkan melihat peningkatan besar hanya dalam 30 tahun,” kata Thomas Slater, ahli glasiologi di Universitas Leeds di Inggris, mengutip dari Reuters.
"Orang-orang memang mengakui bahwa meski jarak esnya jauh, namun efek pencairannya akan terasa oleh mereka," lanjut Slater.
Mencairnya es di daratan, seperti di Antartika, Greenland, dan gletser pegunungan, menambah cukup banyak air ke laut selama periode waktu tiga dekade.
Fenomena ini menaikkan rata-rata permukaan laut global sebesar 3,5 sentimeter.
Slater melanjutkan, hilangnya es dari gletser gunung menyumbang 22 persen dari total kehilangan es tahunan.
Baca juga: Member BTS Ungkap Kebiasaan Tidur Unik V: Pernah Mengigau Ingin Pesan Mie Saat Tidur
Baca juga: Waspada! Ini Daftar Wilayah Potensi Tinggi Terjadi Awan Cumulonimbus, Bahayakan Penerbangan
Baca juga: Mitos-Mitos Seputar Tekanan Darah Tinggi: dari Penyakit Keturunan hingga Dapat Disembuhkan
Di daerah Arktik, es di laut juga menyusut ke posisi terendah pada musim panas terakhir.
Hal ini menandai lapisan es laut terendah kedua dalam lebih dari 40 tahun pemantauan satelit.
Ketika es di laut lenyap, akan terlihat air gelap yang menyerap radiasi matahari, dan tidak lagi memantulkan kembali atmosfer.
Fenomena ini, yang dikenal sebagai amplifikasi Arktik, yang dapat meningkatkan suhu lebih jauh.
Suhu atmosfer global telah meningkat sekitar 1,1 derajat Celcius sejak masa pra-industri.
Akan tetapi, di Kutub Utara, tingkat pemanasan telah lebih dari dua kali lipat dibanding rata-rata global dalam 30 tahun terakhir.