Mengenal Sosok Naftali Bennett, Perdana Menteri Baru Israel yang Gantikan Benjamin Netanyahu
Naftali Bennett dilantik pada Minggu (13/6/2021) sebagai perdana menteri baru Israel, menggantikan perdana menteri sebelumnya, Benjamin Netanyahu.
TRIBUNTERNATE.COM - Di tengah-tengah konflik dengan Palestina, Israel baru saja memiliki perdana menteri baru.
Adalah Naftali Bennett, yang dilantik pada Minggu (13/6/2021) sebagai perdana menteri baru Israel, menggantikan perdana menteri sebelumnya, Benjamin Netanyahu.
Dilantiknya Naftali Bennett sebagai perdana menteri Israel menunjukkan banyaknya kontradiksi yang mendefinisikan negara berusia 73 tahun itu.
Lalu, siapa sebeneranya sosok Naftali Bennett?
Diwartakan Channel News Asia, Naftali Bennet adalah seorang Yahudi religius yang memiliki penghasilan senilai jutaan dolar di sektor hi-tech yang sebagian besarnya bersifat sekuler.
Ia juga merupakan seorang punggawa dalam pemindahan pemukiman di pinggiran kota Tel Aviv.
Selain itu, Neftali Bennett adalah mantan sekutu Benjamin Netanyahu.
Namun, Bennett berpindah haluan dan bekerjasama dengan partai-partai sayap kiri dan tengah untuk mengakhiri kekuasaan Benjamin Netanyahu yang telah berlangsung selama 12 tahun.
Partai ultranasionalis Bennett, Yamina, diketahui hanya memenangkan tujuh kursi di Knesset yang beranggotakan 120 orang dalam pemilihan Maret - suara keempat dalam dua tahun.
Namun, dengan menolak untuk berkomitmen pada Benjamin Netanyahu atau lawan-lawannya, Naftali Bennett berhasil memposisikan dirinya sebagai raja.
Bahkan setelah salah satu anggota partai nasionalis keagamaannya meninggalkannya untuk memprotes kesepakatan koalisi baru, Naftali Bennett tetap berakhir dengan mahkota di tangannya.
Berikut adalah sosok pemimpin Israel baru:
ULTRANASIONALIS DENGAN KOALISI SEDANG
Naftali Bennett telah lama memposisikan dirinya sebagai sayap kanan Benjamin Netanyahu.
Namun, dia sangat dibatasi oleh koalisinya yang berat, yang hanya memiliki mayoritas kecil di parlemen dan mencakup partai-partai dari sayap kanan, kiri, dan tengah.
Dia menentang kemerdekaan Palestina dan sangat mendukung permukiman Yahudi di Tepi Barat dan Yerusalem timur yang diduduki Israel,
Hal ini dilihat oleh Palestina dan sebagian besar masyarakat internasional sebagai hambatan utama bagi upaya perdamaian bagi kedua wilayah tersebut.
Baca juga: Israel Bentuk Pemerintah Baru, Presiden Palestina: Kami Tetap Inginkan Negara Palestina
Baca juga: Jaksa Sebut Nota Pembelaan Rizieq Shihab Didominasi oleh Keluh Kesah Belaka dan Tak Berdasar
Baca juga: Kematian Wakil Bupati Sangihe Jadi Sorotan, Polisi Sebut Penyebabnya Tak Terkait Izin Tambang

Bennett pernah melempar kritikan keras karena Benjamin Netanyahu setuju untuk memperlambat pembangunan pemukiman Yahudi di bawah tekanan dari Presiden AS Barack Obama; yang berupaya untuk menghidupkan kembali proses perdamaian Israel dan Palestina di awal masa jabatan pertamanya, tetapi gagal.
Ia sempat menjabat sebagai kepala dewan pemukim Tepi Barat, Yesha, sebelum memasuki Knesset pada 2013.
Bennett kemudian menjabat sebagai menteri kabinet urusan diaspora, pendidikan, dan pertahanan di berbagai pemerintahan yang dipimpin Netanyahu.
“Dia adalah pemimpin sayap kanan, garis keras keamanan, tetapi pada saat yang sama juga sangat pragmatis,” kata Yohanan Plesner, kepala Institut Demokrasi Israel, yang telah mengenal Bennett selama beberapa dekade dan bertugas bersamanya di militer.
Dia berharap, Bennett dapat terlibat dengan faksi lain untuk menemukan "denominator yang sama" saat dia mencari dukungan dan legitimasi sebagai pemimpin nasional.
PERSAINGAN DENGAN NETANYAHU
Naftali Bennett merupakan seorang ayah dengan empat orang anak dan berusia 49 tahun.
Bennett rupanya memiliki pendekatan hawkish (penuh kekerasan dan pemaksaan/koersi, red.) yang sama dengan Netanyahu terhadap konflik Timur Tengah.
Akan tetapi, keduanya memiliki hubungan yang tegang selama bertahun-tahun.
Bennett menjabat sebagai kepala staf Netanyahu selama dua tahun, tetapi mereka berpisah setelah perselisihan misterius yang disebut media Israel terkait dengan istri Netanyahu, Sara.
Diketahui, Sara memiliki pengaruh besar atas lingkaran dalam suaminya.
Bennett berkampanye sebagai pendukung sayap kanan menjelang pemilihan Maret 2021 dan sempat menandatangani janji di TV nasional yang mengatakan bahwa dia tidak akan pernah membiarkan Yair Lapid, seorang sentris sekaligus saingan utama Netanyahu, menjadi perdana menteri.
Namun, ketika Netanyahu mulai terlihat tidak dapat membentuk koalisi yang berkuasa, hal di ataslah yang dilakukan Bennett.
Bennett setuju untuk menjabat sebagai perdana menteri Israel selama dua tahun sebelum menyerahkan kekuasaan kepada Yair Lapid, arsitek koalisi baru.
Pendukung Netanyahu telah mencap Bennett sebagai pengkhianat, dengan mengatakan dia telah menipu pemilih.
Bennett pun membela diri dengan menyebut keputusannya sebagai langkah pragmatis yang bertujuan untuk menyatukan negara dan menghindari pemilihan putaran kelima.
Baca juga: Pegawai KPK yang Dinilai Tidak Memenuhi Syarat Minta Keterbukaan atas Hasil TWK
Baca juga: Ada Wacana Pajak Sembako dan Pendidikan, Mardani Ali Sera: Pemerintah Tidak Peka terhadap Rakyat
PERGESERAN GENERASI
Naftali Bennett, merupakan seorang Yahudi Ortodoks modern.
Ia akan menjadi perdana menteri pertama Israel yang secara teratur mengenakan kippa, kopiah yang dikenakan oleh orang-orang Yahudi yang taat.
Dia tinggal di pinggiran kota Tel Aviv yang mewah di Raanana, bukan di pemukiman yang dia dukung.
Orangtua Bennett lahir di Amerika Serikat.
Bennett memulai kehidupan dengan orang tuanya di Haifa, lalu ia berpindah-pindah bersama keluarganya antara Amerika Utara dan Israel, serta untuk dinas militer, sekolah hukum, dan sektor swasta.
Secara keseluruhan, Bennett mewujudkan persona yang modern, religius, sekaligus nasionalis.
Setelah bertugas di unit komando elit Sayeret Matkal, Bennett melanjutkan studi ke sekolah hukum di Universitas Ibrani.
Pada tahun 1999, ia ikut mendirikan Cyota, sebuah perusahaan perangkat lunak anti-penipuan yang dijual pada tahun 2005 ke RSA Security yang berbasis di AS seharga 145 juta dolar AS.
Bennett mengatakan pengalaman pahit perang Israel 2006 melawan kelompok militan Lebanon Hizbullah telah mendorongnya untuk terjun ke dunia politik.
Perang yang berlangsung selama sebulan itu berakhir dengan tidak meyakinkan, dan kepemimpinan militer dan politik Israel pada saat itu secara luas dikritik karena ceroboh dalam kampanye.
Bennett mewakili generasi ketiga pemimpin Israel, tepatnya setelah generasi para pendiri negara dan generasi Netanyahu, yang berkembang selama tahun-tahun awal negara yang tegang yang ditandai dengan perang berulang dengan negara-negara Arab.
“Dia adalah Israel 3.0,” tulis Anshel Pfeffer, seorang kolumnis untuk surat kabar Haaretz yang berhaluan kiri Israel, dalam profil Bennett baru-baru ini.
“Seorang nasionalis Yahudi tetapi tidak terlalu dogmatis. Sedikit relijius, tapi tentu saja tidak terlalu taat. Seorang pria militer yang lebih menyukai kenyamanan kehidupan perkotaan sipil dan pengusaha teknologi tinggi yang tidak lagi menginginkan pendapatan senilai jutaan. Seorang pendukung Tanah Besar (Greater Land) Israel, tetapi bukan pemukim. Dan dia mungkin juga bukan politisi seumur hidup,” lanjut Anshel.
SUMBER: AP via Channel News Asia
(TribunTernate.com/Rizki A)