Breaking News:

Virus Corona

WHO: Virus Corona Varian Delta akan Mendominasi Pandemi Covid-19 dalam Beberapa Bulan ke Depan

WHO mengatakan, varian yang sangat menular dari Covid-19 itu diperkirakan akan menjadi jenis virus yang dominan dalam beberapa bulan mendatang.

Penulis: Rizki A. Tiara | Editor: Ronna Qurrata Ayun
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
ILUSTRASI - Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat, Kamis (26/3/2020). WHO mengatakan, varian yang sangat menular dari Covid-19 itu diperkirakan akan menjadi jenis virus yang dominan dalam beberapa bulan mendatang. 

Dengan demikian, World Health Organization (WHO) menyebut varian Delta sebagai “yang tercepat dan terkuat”.

2. Orang yang tidak divaksin berisiko terinfeksi

Orang yang belum sepenuhnya mendapat vaksin Covid-19 adalah kelompok yang paling berisiko terinfeksi.

Selain itu, anak-anak dan remaja juga menjadi perhatian. Dr. Yildirim mengatakan, sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa anak-anak dan orang dewasa di bawah 50 tahun 2,5 kali lebih mungkin terinfeksi Delta.

“Ketika kelompok usia yang lebih tua divaksinasi, mereka yang lebih muda dan tidak divaksinasi akan berisiko lebih tinggi terkena Covid-19 dari varian apapun,” ujarnya.

3. Vaksinasi adalah perlindungan terbaik terhadap varian Delta

Hal terpenting yang dapat dilakukan untuk melindungi diri dari varian Delta, selain menerapkan protokol kesehatan, adalah mendapatkan vaksinasi lengkap.

Misalnya, seseorang yang sudah mendapatkan suntikan pertama vaksin harus mendapatkan suntikan kedua pada periode vaksinasi berikutnya.

Vaksinasi juga membantu melindungi dari gejala infeksi Covid-19 yang parah, seperti sesak napas dan nyeri dada.

4. Tingkat keparahan dan gejala virus corona varian Delta

Studi dari Skotlandia menunjukkan bahwa varian Delta sekitar dua kali lebih mungkin mengakibatkan rawat inap pada individu yang tidak divaksinasi dibandingkan varian Alpha.

Meski demikian, penelitian lebih lanjut mengenai tingkat keparahan akibat infeksi varian Delta masih dibutuhkan.

Mengenai gejalanya, Dr. Yildirim mengatakan, Delta dapat ditandai oleh gejala batuk, sakit kepala, sakit tenggorokan, pilek, dan demam.

Hal ini berdasarkan pada survei terbaru di Inggris, yang lebih dari 90 persen kasusnya disebabkan oleh Delta.

Untuk melawan Delta, Analisis Public Health England menunjukkan setidaknya ada dua vaksin yang efektif.

Pertama, vaksin Pfizer-BioNTech, yakni 88 persen efektif terhadap penyakit simtomatik dan 96 persen terhadap rawat inap dari Delta.

Kedua, vaksin Oxford-AstraZeneca, yakni 60 persen efektif terhadap penyakit simtomatik dan 93 persen efektif terhadap rawat inap.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "4 Hal yang Penting Diketahui tentang Varian Delta"

SUMBER: CHANNEL NEWS ASIA, Kompas.com

(TribunTernate.com/Rizki A.) (Kompas.com/Lulu Lukyani)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved