Sabtu, 13 Juni 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Terkini Internasional

Kuasai Afghanistan, Taliban Masih Harus Hadapi 6 Tantangan Ini: Penerimaan Masyarakat hingga Ekonomi

Taliban hanya memiliki sedikit atau tidak sama sekali pemahaman teknokratis tentang bagaimana melakukan fungsi-fungsi lain dari pemerintahan.

Tayang:
AFP/Hoshang Hashimi via Al Jazeera
Pasukan keamanan dan militia Afghanistan berjuang melawan Taliban, mereka berjaga-jaga di Distrik Enjil, Provinsi Herat. 

“Taliban menyadari risiko ini dan telah menghabiskan waktu tujuh tahun terakhir atau lebih untuk meningkatkan hubungan vertikal dan horizontal dalam organisasi mereka untuk memperkuat kohesinya. Sejauh mana upaya itu akan mencegah gerilyawan Taliban memutuskan untuk menghentikan pertempuran ketika seruan para pasukan asing hilang masih harus dan perlu dilihat,” katanya.

Baca juga: Sosok Petinggi Taliban Ghani Baradar yang Disebut-sebut Jadi Calon Kuat Presiden Afghanistan

Baca juga: Makin Liar, Ini 5 Fakta Penting tentang Taliban yang Tengah Bersiap Kuasai Afghanistan Lagi

Masa lalu

Kekuasaan terakhir Taliban di Afghanistan antara tahun 1996 dan 2001 dirusak oleh pelecehan terhadap etnis minoritas dan pembatasan hak-hak perempuan, sementara negara itu terisolasi secara internasional.

Sejak merebut kembali kekuasaan pada 15 Agustus 2021, pokok pembicaraan yang dilontarkan Taliban mencakup menghormati peran perempuan di ruang publik, hak asasi manusia dan hak-hak minoritas.

Namun, dunia dan yang lebih penting lagi, warga Afghanistan sendiri, sedang menunggu untuk melihat apakah kata-kata dan janji itu akan terbukti.

AS menginvasi Afghanistan pada 2001 karena keterkaitannya dengan al-Qaeda, yang dituding bertanggungjawab atas serangan 9/11.

Sementara, Taliban akan diawasi dengan ketat untuk memastikan pihaknya menepati janji untuk tidak menyediakan tempat berlindung bagi kelompok-kelompok bersenjata seperti al -Qaeda dan ISIL.

“Sejarah Afghanistan dalam 50 tahun terakhir penuh dengan naik turunnya rezim dan pemerintah. Sangat sedikit yang memiliki kesempatan kedua, dan jika mereka melakukannya – seperti Mujahidin – mereka biasanya berumur pendek,” kata Samad, yang juga mantan diplomat dan penasihat pemerintah Afghanistan, kepada Al Jazeera.

“Mereka menghadapi tantangan besar untuk memastikan tingkat yang dapat diterima atas kebijakan hak asasi manusia dan hak gender, hukum media dan masyarakat sipil, hak etnis dan hak minoritas. Selain itu, untuk secara kasat mata memutuskan hubungan dengan kelompok-kelompok militan dan teror. Waktu akan memberi tahu kita apakah salah satu dari beragam pembelajaran ini telah dipetik, ” katanya.

Ekonomi dan ketergantungan pada bantuan asing

Afghanistan adalah salah satu negara termiskin di dunia, dan lebih dari 20 persen pendapatan kotor nasionalnya berasal dari bantuan asing.

Amerika Serikat membekukan aset bank sentral Afghanistan senilai 9,5 miliar dolar AS setelah Taliban kembali berkuasa, sementara Dana Moneter Internasional (IMF) menangguhkan akses ke pendanaan negara itu.

Banyak donatur negara Barat lainnya yang mungkin akan mengikuti jejak AS dan IMF.

Sehingga, sangat sulit bagi pemerintah baru Afghanistan yang dipimpin Taliban untuk menjalankan perekonomian, padahal sebanya 75 persen pengeluaran publik negara ini berasal dari hibah.

Kekayaan mineral yang signifikan tetap berada di bawah tanah karena ketidakstabilan situasi telah menghambat eksplorasi besar dan investasi internasional.

Meskipun Taliban telah melakukan pembicaraan dengan Rusia dan China tentang kemungkinan proyek kerjasama ekonomi, masih harus dilihat lagi bagaimana hal itu akan terwujud.

Pemerintahan di bawah Taliban tentu juga membutuhkan badan-badan kemanusiaan untuk memberikan bantuan mendesak kepada warga Afghanistan yang terlantar akibat perang.

Diketahui, lebih dari 5 juta warga Afghanistan diperkirakan menjadi pengungsi internal.

PBB mengatakan hampir 400.000 orang telah mengungsi pada tahun ini saja sebagai akibat dari kekerasan yang tengah berlangsung.

Nanun, dengan adanya berbagai lembaga bantuan, termasuk PBB, yang menarik staf mereka ke luar negeri, segalanya akan semakin sulit bagi negara yang warganya bergantung pada bantuan asing.

Untuk membuka pendanaan internasional, pengakuan masyarakat internasional terhadap pemerintah Taliban akan menjadi kuncinya.

Sementara, kelompok itu masih dimasukkan ke daftar hitam oleh PBB.

Taliban telah mengabaikan gagasan ketergantungan pada bantuan asing, dengan mengatakan para pejuangnya bertahan hidup dengan roti dan air saat berperang.

Pertanyaannya pun tetap sama: Bisakah itu meyakinkan jutaan warga sipil Afghanistan untuk hidup tanpa bantuan asing yang mereka andalkan selama bertahun-tahun?

Ini juga merupakan kesempatan bagi donatur asing dan lembaga bantuan untuk membujuk Taliban agar menerima persyaratan mereka sebagai imbalan atas bantuan yang akan diberikan.

Akan tetapi Jonah Blank, seorang dosen di National University of Singapore mengatakan: “Uang bukanlah alat yang benar-benar kuat seperti yang mungkin dipikirkan beberapa orang luar.”

"Selama [Taliban] memiliki dana yang cukup untuk memenuhi 'tugas' dasarnya (seperti yang dilihatnya), maka saya pikir kelompok itu tidak akan terlalu peduli apakah ada satu atau dua miliar tambahan di sini atau di sana masuk ke perbendaharaan negara," kata Blank Acara 'Counting the Cost' Al Jazeera.

Sumber: AL Jazeera

(TribunTernate.com/Rizki A.)

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved