Jumat, 5 Juni 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

WHO: Covid-19 Varian Omicron Timbulkan Risiko Global yang Sangat Tinggi, Negara-Negara Harus Bersiap

hadirnya Omicron akan menimbulkan risiko lonjakan infeksi Covid-19 yang sangat tinggi dan bisa burujung pada "konsekusensi parah" di beberapa tempat.

Tayang:
Instagram/drtedros
WHO Peringatkan negara-negara untuk bersiap hadapi lonjakan Covid-19 akibat varian Omicron - Dalam foto: Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus. 

TRIBUNTERNATE.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Senin (29/11/2021) bahwa virus corona varian Omicron kemungkinan akan menyebar secara luas ke seluruh dunia.

Hal tersebut kemudian akan menimbulkan risiko lonjakan infeksi Covid-19 yang sangat tinggi dan bisa burujung pada "konsekusensi parah" di beberapa tempat.

Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui ada atau tidaknya potensi Omicron bisa lolos dari perlindungan vaksin maupun kekebalan tubuh alami bagi mereka yang pernah terinfeksi Covid-19.

Sejauh ini, masih belum ditemukan dan belum ada laporan soal kematian manusia yang disebabkan oleh varian Omicron.

Sebelumnya, usai varian baru Omicorn ditemukan, badan PBB langsung mendesak 194 negara naggotanya untuk mempercepat vaksinasi kelompok prioritas tinggi untuk mengantisipasi peningkatan jumlah kasus.

"Omicron memiliki jumlah lonjakan mutasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, beberapa di antaranya mengkhawatirkan dampak potensialnya pada lintasan pandemi," kata WHO.

"Risiko global secara keseluruhan terkait dengan varian baru dinilai sangat tinggi," imbuhnya.

Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa kemunculan Omicron menunjukkan betapa berbahaya dan gentingnya situasi saat ini.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss, Rabu (11/3/2020).
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss, Rabu (11/3/2020). (AFP/FABRICE COFFRINI)

Baca juga: Antisipasi Omicron, IDAI Desak Vaksinasi Covid-19 Dijadikan Syarat Pembelajaran Tatap Muka

Baca juga: Antisipasi Penyebaran Omicron, Pemerintah Tutup Pintu Masuk ke Indonesia untuk 11 Negara Ini

"Omicron menunjukkan mengapa dunia membutuhkan kesepakatan baru tentang pandemi," kata Ghebreyesus di awal pertemuannya dengan para menteri kesehatan.

"Sistem kami yang ada saat ini menghalangi negara-negara untuk memperingatkan orang lain tentang ancaman yang pasti akan mendarat di negeri mereka," lanjutnya.

Kesepakatan global baru yang diperkirakan akan terjadi pada Mei 2024 akan mencakup isu-isu seperti berbagi data dan urutan genom virus yang muncul dan vaksin potensial apa pun yang berasal dari penelitian.

Chief Executive Officer dari Coalition for Epidemic Preparedness yang juga seorang ilmuwan bernama Richard Hatchett mengatakan, kemunculan Omicron membenarkan prediksi soal penularan virus di daerah dengan tingkat vaksinasi rendah akan mempercepat evolusinya.

"Ketidaksetaraan yang menjadi ciri respons global kini telah muncul," kata Hatchett.

Sebagai informasi, Botswana dan Afrika Selatan, tempat di mana Omicron berasal, mencatat bahwa hanya kurang dari seperempat populasi mereka yang sudah divaksinasi penuh.

Omicron pertama kali dilaporkan pada 24 November 2021 dari Afrika Selatan, di mana infeksi telah meningkat tajam.

Sejak Omicron menyebar ke lebih dari 12 negara, banyak di antaranya telah memberlakukan pembatasan perjalanan dan mencoba menutup diri.

Ilustrasi virus corona
Ilustrasi virus corona (Freepik)

Baca juga: Moderna: Vaksin Covid-19 Baru untuk Varian Omicron Diperkirakan akan Tersedia pada Awal 2022

Baca juga: Apa Itu Omicron? Varian Baru Covid-19 Asal Afrika Selatan yang Ditetapkan sebagai Variant of Concern

Seperti Jepang misalnya, pada Senin (29/11/2021) negara itu bergabung dengan Israel dan mengatakan akan menutup perbatasannya untuk orang asing.

Sambil menunggu saran lebih lanjut, WHO menegaskan kembali bahwa negara-negara di dunia harus menggunakan pendekatan berbasis risiko untuk menyesuaikan regulasi perjalanan internasional secara tepat waktu.

Selain itu, negara-negara di dunia juga harus mengakui bahwa peningkatan kasus virus corona bisa menyebabkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang lebih tinggi.

"Dampak pada populasi yang rentan akan sangat besar, terutama di negara-negara dengan cakupan vaksinasi yang rendah," kata WHO.

Sementara itu, pada orang yang sudah divaksinasi, kasus dan infeksi Covid-19 diperkirakan hanya dalam proporsi yang kecil dan dapat diprediksi.

Secara keseluruhan, ada ketidakpastian yang cukup besar dalam besarnya potensi lolosnya kekebalan vaksin dari Omicron.

Kini, WHO berharap akan ada lebih banyak data tentang Omicron yang tersedia dalam beberapa minggu mendatang.

(TribunTernate.com/Ron)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved