Kenaikan Kasus Omicron Tinggi tapi Pasien Rawat Inap Rendah, Menkes Ubah Strategi Layanan Kesehatan
Menurut Menkes, jumlah kasus Omicron di Indonesia akan terus meningkat, bahkan melebihi varian Delta, namun pasien rumah sakit akan lebih rendah.
TRIBUNTERNATE.COM - Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI), Budi Gunadi Sadikin mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mengubah strateginya dalam menghadapi kasus virus corona varian Omicron.
Dalam Keterangan Pers Menteri terkait Hasil Ratas Evaluasi PPKM pada Selasa (11/1/2022), Menkes Budi Gunadi menjelaskan strateginya.
Menurut Menkes, jumlah kasus Omicron yang terjadi di Indonesia akan terus meningkat, bahkan melebihi varian Delta.
Namun demikian, pasien Covid-19 Omicron yang dirawat di rumah sakit akan jauh lebih sedikit.
"Memang kenaikan transmisi Omicron akan jauh lebih tinggi dari Delta, tetapi yang dirawat jauh lebih sedikit," tutur Menkes Budi Gunadi.
Dengan demikian, lanjut Budi, Kemenkes akan mengubah strategi layanan kesehatan untuk menghadapi lonjakan kasus Omicron di Tanah Air.
Baca juga: Waspada Omicron, 14 Negara Ini Dilarang Masuk ke Indonesia Mulai Jumat, 7 Januari 2022
Baca juga: Ashanty Positif Covid-19 setelah Pulang dari Turki, Kemenkes Belum Pastikan Omicron atau Tidak
Sebelumnya, Kemenkes mengatakan bahwa pihaknya akan berfokus pada kapasitas rumah sakit dalam menampung pasien Covid-19.
Namun, karena dalam kasus Omicron jumlah pasien rawat inap lebih rendah, fokus ke rumah sakit dipindahkan ke rumah warga yang menjalani isolasi mandiri.
"Sehingga strategi layanan dari Kementerian Kesehatan akan digeser, yang sebelumnya fokusnya ke rumah sakit, sekarang fokusnya ke rumah. Karena, akan banyak orang yang terkena dan tidak perlu ke rumah sakit," terang Menkes.
Lebih lanjut, Menkes menegaskan bahwa Kemenkes telah melakukan penelitian pada gejala yang dialami oleh 414 pasien Omicron di Indonesia.

Kemudian dari gejala-gejala tersebut akan dikelompokkan mana gejala yang harus dirawat di rumah sakit, mana gejala yang harus diisolasi secara terpusat, dan mana gejala yang bisa dirawat di rumah saja.
"Kementerian Kesehatan sudah melakukan penelitian untuk ke-414 pasien Omicron ini, apa gejalanya, gejala apa yang hanya perlu dirawat di rumah which is sebagian besar akan begitu, gejala seperti apa yang dirawat di isolasi terpusat seperti Wisma Atlet, gejala seperti apa yang masuk rumah sakit, mana yang sedang dan mana yang berat," terang Budi.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes telah menyiapkan 17 platform telemidicine bagi pasien Covid-19 yang memiliki gejala ringan dan hanya perlu dirawat di rumah.
Hal itu dilakukan agar orang-orang yang menjalani perawatan di rumah tetap bisa mendapatkan akses kesehatan dan logistik obat yang layak.
"Kami juga sudah bekerja sama dengan 17 platform telemidicine, untuk memastikan agar orang yang harus dirawat di rumah itu tetap bisa mendapatkan akses untuk konsultasi kedokteran dan juga bisa mendapatkan akses untuk delivery obatnya," pungkas Budi.
Gejala paling banyak yang dialami penderita Omicron
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan gejala paling banyak yang dialami oleh penderita Omicron.
“Mayoritas (penularan) masih didominasi pelaku perjalanan luar negeri. Dari hasil pemantauan, sebagian besar kondisinya ringan dan tanpa gejala."
"Gejala paling banyak adalah batuk (49 persen) dan pilek (27 persen),” kata dr Nadia, dikutip dari kemkes.go.id.
Selain itu, Kemenkes juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat kegiatan 3T (Testing, Tracing, Treatment).
Baca juga: Jokowi Akhirnya Gratiskan Vaksin Booster untuk Semua Masyarakat, Syaratnya Hanya Ini
Baca juga: Penerima Sinovac akan Dapat Booster Vaksin Merek Zifivax buatan China, Efektifkah?
Kemenkes meminta pemda untuk aktif melakukan pemantauan apabila ditemukan cluster-cluster baru Covid-19 dan segera melaporkan serta berkoordinasi dengan pusat apabila ditemukan kasus konfirmasi Omicron di wilayahnya.
“Poin utama dari aturan ini untuk memperkuat koordinasi pusat dan daerah serta fasyankes dalam menghadapi ancaman penularan Omicron."
"Mengingat dalam beberapa waktu terakhir kasus transmisi lokal terus meningkat," ujar dr Nadia.
Menurut dr Nadia, kesiapan daerah dalam merespons penyebaran Omicron ini menjadi sangat penting untuk mencegah cluster baru penularan Covid-19 muncul.
Selain otoritas daerah, seluruh masyarakat juga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.
dr Nadia menekankan kewaspadaan individu untuk terus ditingkatkan guna menghindari potensi penularan Omicron.
Protokol kesehatan 5M dan vaksinasi harus berjalan beriringan sebagai kunci untuk melindungi diri dan orang sekitar dari penularan Omicron.
Diketahui, Omicron memiliki tingkat penularan yang jauh lebih cepat dibandingkan varian Delta.
Sejak ditemukan pertama kali pada Rabu, 24 November 2021 di Afrika Selatan, kini Omicron telah terdeteksi di lebih dari 110 negara dan diperkirakan akan terus meluas.
Di level nasional, pergerakan Omicron juga terus meningkat sejak pertama kali dikonfirmasi pada 16 Desember 2021.
(TribunTernate.com/Ron)(Tribunnews.com)