Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Darul Hunafa Weda, BIMAGO Gontor di Hutan Belantara Halmahera

Darul Hunafa Weda, BIMAGO Gontor di Hutan Belantara Halmahera, Maluku Utara

Editor: Munawir Taoeda
Tribunternate.com/Muhammad Husain Sanusi
PENDIDIKAN: Foto bersama pendiri dan santri Yayasan Pendidikan islam Darul Hunafa Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Selasa (30/5/2023). 

Lelilef dulunya adalah kawasan terpencil dan sepi. Jauh dari keramaian, jalanan tak beraspal, dalam sehari untung kalau ada satu mobil yang lewat.

Kini Lelilef jadi seperti kota metropolitan. Pada tahun 2021, terdapat 24.000 pekerja lokal dari berbagai daerah, tahun 2022 PT IWIP menargetkan 36.000 pekerja lokal, belum lagi pekerja asing yang kini mulai tampak keluar masuk Maluku Utara.

Hasil tambang nikel dari Lelilef ini menjadikan Maluku Utara sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia pada tahun lalu (menurut data BPS), dan negara menyebut warga Maluku Utara sebagai warga paling bahagia. Meski kenyataan di lapangan masih dipertanyakan.

Kurang lebih 20 tahun, Ustadz Haka berdakwah di Lelilef, beliau juga membuka kawasan hutan sebelum ditemukannya barang mahal bernama Nikel yang kini jadi rebutan semua negara di dunia ini untuk dijadikan bahan baku pengganti energi minyak bumi.

Saat terjadi rebutan tanah di kawasan sekitar tambang di Lelilef, Ustadz Haka pilih mengalah untuk tidak ikut berebut tanah.

Padahal beliau punya hak memiliki tanah tak bertuan itu karena beliau lah yang dulunya membuka kawasan hutan Lelilef.

Namun, keikhlasan dalam berjuang menegakkan Kalimatullah lebih berarti daripada materi milyaran yang sudah tampak di depan mata.

Menurut Ustadz Anas, Ustadz Haka selalu melarang kami berebut tanah dengan alasan, “itu tidak pernah diajarkan Kiai Sahal dan Kiai Imam Zarkasyi”.

Ustadz Haka mulai menyadari pejuang harus ada penerusnya, seperti Gontor yang memiliki program terencana dengan sistem kaderisasi.

Diputuskan lah keponakan beliau bernama Anas Salim untuk dipondokkan ke Gontor. Qodarullah, selama hidup, Ustadz Haka tidak dianugerahi keturunan.

Anas Salim pun mulai digembleng persiapan masuk Gontor sejak 1998. Gemblengan dilakukan dengan mengajari Anas Salim pelajaran-pelajaran yang jadi syarat sebelum diterima sebagai santri Gontor. Katakanlah seperti BIMAGO saat ini.

Tapi, jangan bayangkan BIMAGO ala Ustadz Haka diajarkan di kelas ber AC atau guru privat datang ke rumah seperti calon santri Gontor saat ini. Ustadz Haka mengajari Anas pelajaran BIMAGO di dalam hutan belantara Halmahera Tengah.

Anas Salim bercerita, Ustadz Haka mengajaknya masuk hutan selama lima hari, tidur di dalam hutan. Kamis sore keluar hutan agar besoknya di hari Jumat bisa shalat Jumat bersama penduduk kampung setempat. Sabtu pagi keesokan harinya kembali lagi ke hutan.

Di dalam hutan, Ustadz Haka mengajari Anas Salim pelajaran baca tulis Al-Qur’an, imla’, tata cara ibadah shalat, doa-doa pendek dan pelajaran ujian masuk Gontor seperti BIMAGO.

Di saat bersamaan, Ustadz Haka tetap menjalankan rutinitasnya memegang kapak, membuka lahan perkebunan di hutan untuk ditanami kelapa. Rutinitas keluar masuk hutan dijalani selama satu tahun.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Ternate
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved