Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Koperasi Merah Putih

Seluruh Desa dan Kelurahan di Tidore Telah Musdesus KMP, Menkop Budi Arie Puji Maluku Utara

Menkop Budi Arie menyampaikan hal itu pada Peluncuran dan Dialog Percepatan Musdesus Pembentukan Kopdes/Kel Merah Putih di Sofifi, Maluku Utara.

Humas Kementerian Koperasi
KMP - Menkop Budi Arie dalam Peluncuran dan Dialog Percepatan Musdesus Pembentukan Kopdes/Kel Merah Putih di Sofifi, Maluku Utara, Rabu (4/6/2025). Budi Arie mengapresiasi Maluku Utara, terutama Kota Tidore Kepulauan, yang telah menyukseskan pelaksanaan program Kopdes/Kopkel Merah Putih. 

TRIBUNTERNATE.COM, SOFIFI - Menteri Koperasi (Menkop) Budi Arie Setiadi mengapresiasi Provinsi Maluku Utara, terutama Kota Tidore Kepulauan.

Alasannya, daerah tersebut telah menyukseskan pelaksanaan program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kopkel) Merah Putih.

Terutama dengan terbentuknya Kopdes Merah Putih (KMP) di Desa Balbar, Kota Tidore Kepulauan, Malut.

Pada 3 Juni 2025 pukul 11.15 WIT, seluruh 89 desa dan kelurahan (100 persen) di Kota Tidore Kepulauan telah berhasil melaksanakan Musyawarah Desa/Kelurahan Khusus (Musdesus).

Hal ini menunjukkan komitmen dan kerja keras dari seluruh perangkat desa/kelurahan, tokoh masyarakat, dan pihak terkait.

Menkop Budi Arie menyampaikan hal itu pada Peluncuran dan Dialog Percepatan Musdesus Pembentukan Kopdes/Koperasi Kelurahan Merah Putih di Sofifi, Maluku Utara, Rabu (4/6/2025).

Baca juga: Ini Penyebab 4 Ruko Terbakar di Pusat Bisnis Kota Ternate Maluku Utara

Menurut Budi Arie, target sebanyak 80.000 Kopdes/kel Merah Putih itu untuk mengatasi masalah di desa/kelurahan

"Mulai dari panjangnya rantai distribusi, keterbatasan permodalan, dominasi tengkulak yang merugikan petani dan konsumen, serta memutus rantai rentenir dan pinjol ilegal,” kata mantan Menteri Komunikasi dan Digital Indonesia ini. 

Meski begitu, Budi Arie menegaskan, masih ada sejumlah tantangan dalam mewujudkan cita-cita koperasi yang bisa mengatasi permasalahan di desa/kelurahan. 

Dia menyebut, masih rendahnya partisipasi masyarakat dan kesadaran kolektif akan pentingnya koperasi.

Adanya persepsi/image negatif publik terhadap koperasi, karena kasus koperasi bermasalah dan pinjol ilegal berkedok koperasi.

Kemudian, skala ekonomi dan potensi di setiap desa berbeda.

Kapasitas dan kompetensi SDM di setiap desa berbeda, maupun kemungkinan adanya elite capture dalam pembentukan dan kepengurusan.

Baca juga: Wali Kota Tidore Muhammad Sinen Apresiasi 100 Hari Kerja Sherly Laos dan Sarbin Sehe

Serta kemungkinan fraud dalam pengelolaan yang tidak profesional, dan potensi keberlanjutan lembaga dan usaha koperasi ke depan.

“Pembangunan Kopdes/kel Merah Putih ini harus dipercepat, namun untuk operasional harus hati-hati dan tidak menghilangkan aspek prudent termasuk menyiapkan mitigasi risiko,” tegas mantan wartawan kelahiran 20 April 1969 ini dalam rilisnya yang diterima Tributernate.com, Rabu (4/6/2025) malam.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved