Pemprov Malut
Siswa Malut Kini Bisa Awasi Dana Bosp dan Bosda Rp 170 Miliar, Sherly Laos: Semua Transparan!
Ini lewat program Transparansi Penggunaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (Bosp) dan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda)
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Pastikan semua transparan, siswa Maluku Utara kini bisa awasi pengelolaan dana Bosp dan Bosda senilai Rp 170 miliar.
Ini lewat program Transparansi Penggunaan Dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (Bosp) dan Bantuan Operasional Sekolah Daerah (Bosda) secara serentak di 400 SMA, SMK, dan SLB.
Program ini diluncurkan Gubernur Maluku Utara Sherly Laos yang dipusatkan di SMAN 1 Kota Ternate dan SMAN 10 Kota Ternate, Rabu (15/10/2025).
Baca juga: Area Parkiran Pasar Higienis Ternate Disterilkan Jelang Kunjungan Wapres Gibran Hari Ini
Kata Sherly Laos, peluncuran program ini merupakan komitmen pemerintah provinsi Maluku Utara dalam mewujudkan tata kelola pendidikan yang terbuka, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan siswa.
Total dana Rp 170 miliar yang terdiri dari dana Bosp reguler, Bosp kinerja hingga Bosda ini harus dikelola dengan baik dan terbuka.
“Hari ini kita meluncurkan transparansi penggunaan dana Bosp dan Bosda di seluruh sekolah menengah di Maluku Utara. Total dana Bosp reguler mencapai Rp131 miliar,"
"Bosp kinerja Rp4 miliar, dan Bosda sekitar Rp38 miliar. Jadi keseluruhannya hampir Rp170 miliar yang harus dikelola secara baik dan terbuka,” ujar Sherly Sherly Laos.
Sekolah Wajib Pajang Informasi Penggunaan Dana
Sherly Laos juga menegaskan, mulai tahun depan seluruh sekolah wajib memajang informasi penggunaan dana Bosp dan Bosda secara terbuka di lingkungan sekolah, agar siswa, guru, dan masyarakat bisa mengetahui pengelolaannya.
“Semua realisasi dan sisa anggaran harus ditransparansikan. Siswa juga berhak tahu berapa besar dana yang dikelola sekolahnya,” tegas Gubernur perempuan pertama Maluku Utara itu.
Berorientasi Pada Siswa
Mengenai penggunaannya, Sherly Laos menjelaskan, dana Bosp tahun 2026 akan berorientasi pada kebutuhan dan aspirasi siswa.
Sherly Laos mendorong agar penyusunan program dilakukan secara bottom up bukan hanya dari kepala sekolah atau guru, tetapi juga melibatkan siswa.
“Dana Bosp adalah hak siswa. Karena itu, program-programnya harus berpihak kepada mereka."
"Mulai dari kegiatan OSIS, esktrakulikuler, lomba, hingga pelatihan keterampilan, semua harus mendukung pengembangan kapasitas dan kreativitas siswa,” jelasnya.
Bosp dan Bosda Tidak Lagi untuk Gaji Guru
Sherly Laos juga menegaskan bahwa Bosp dan Bosda kini tidak lagi digunakan untuk membayar gaji guru ASN dan PPPK, karena beban tersebut sudah ditanggung langsung oleh pemerintah provinsi.
Untuk memastikan dana pendidikan benar-benar tepat sasaran, Sherly Laos berencana membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Bosp dan Bosda, yang anggotanya berasal dari siswa.
| Kolaborasi Maluku Utara dan Korea Selatan: Dorong Industri Berkelanjutan |
|
|---|
| SKM Online Dorong Layanan Publik Malut Meningkat, Capaian Tembus 127 Persen |
|
|---|
| Gelombang Tinggi 15–18 April 2026, Gubernur Malut Ingatkan Risiko Kecelakaan Laut |
|
|---|
| Pengawasan Hutan di Maluku Utara Masih Dikendalikan Pusat |
|
|---|
| 80 Persen Izin Pinjam Pakai Hutan di Malut untuk Tambang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/bosda-sherly-laos.jpg)