Dr Kardiyono: Fokus Hilirisasi di Maluku Utara adalah Kelapa, Pala dan Kakao
Maluku Utara memiliki posisi strategis karena terdapat sejumlah perusahaan pengolahan kelapa dan pala yang siap menyerap hasil produksi petani
Penulis: Sansul Sardi | Editor: Munawir Taoeda
Ringkasan Berita:1. Kementan terus mengakselerasi program hilirisasi sektor perkebunan di kawasan timur Indonesia termasuk Maluku Utara
2. Program strategis ini diarahkan untuk memperkuat basis ekonomi daerah melalui pengembangan 3 komoditas unggulan yakni kelapa, pala dan kakao
3. Setelah swasembada tanaman pangan, saatnya pemerintah mengarahkan perhatian pada sektor perkebunan
TRIBUNTERNATE.COM, SOFIFI - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mengakselerasi program hilirisasi sektor perkebunan di kawasan timur Indonesia termasuk Maluku Utara.
Program strategis ini diarahkan untuk memperkuat basis ekonomi daerah melalui pengembangan 3 komoditas unggulan yakni kelapa, pala dan kakao.
Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Ambon, Dr Kardiyono, menyampaikan hal itu usai menghadiri Rapat Koordinasi Hilirisasi Perkebunan Maluku Utara, Selasa (28/10/2025), yang turut dihadiri Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Gubernur Maluku Utara serta para bupati dan wali kota se-provinsi.
"Pak Menteri menegaskan, setelah Indonesia berhasil mencapai swasembada di sektor tanaman pangan, terutama padi, kini saatnya pemerintah mengarahkan perhatian pada sektor perkebunan, "ujar Kardiyono.
Baca juga: Mentan Andi Sulaiman Kucur Rp 371 Triliun untuk Hilirisasi Pertanian, Termasuk Maluku Utara
Ia menjelaskan, secara nasional terdapat tujuh komoditas perkebunan prioritas untuk periode 2025–2027 yaitu kelapa, pala, kakao, tebu, mente, lada dan kopi.
Namun untuk wilayah Maluku dan Maluku Utara, fokus utama tertuju pada kelapa, pala, dan kakao karena potensi dan nilai ekonominya yang tinggi.
"3 komoditas ini punya potensi besar untuk dikembangkan. Di 2025, programnya sudah berjalan di lahan sekitar 3.150 hektare di Maluku Utara, termasuk penyediaan benih, pupuk, hingga tenaga kerja, "jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah juga memberikan insentif sebesar Rp 1,6 juta per hektare bagi petani yang mengikuti program tersebut.
Dana itu dimaksudkan untuk membantu biaya pembukaan lahan dan proses penanaman.
"Insentif ini adalah bentuk stimulus agar petani semakin semangat menanam. Pemerintah pusat menanggung sebagian biaya sebagai dukungan awal, " tambahnya.
Menurut Kardiyono, Maluku Utara memiliki posisi strategis karena telah terdapat sejumlah perusahaan pengolahan kelapa dan pala yang siap menyerap hasil produksi petani.
Pemerintah pun menargetkan penambahan 5.000 hektare lahan baru, terutama di Halmahera Utara dan Halmahera Selatan guna memperluas skala produksi dan menjamin ketersediaan bahan baku industri.
"Kalau bahan baku tersedia cukup, industri akan tumbuh dan nilai tambahnya bisa kembali ke masyarakat, "ujarnya.
Ia menambahkan, program hilirisasi ini dijalankan secara kolaboratif dengan melibatkan Kementan, pemerintah daerah, penyuluh pertanian, unsur TNI dan kalangan akademisi, untuk memastikan pelaksanaan program tepat sasaran dan transparan.
"Pendampingan di lapangan melibatkan banyak pihak. Ini bagian dari komitmen transparansi pemerintah agar manfaat program benar-benar dirasakan petani, "tegas Kardiyono.
Baca juga: Eks Dandim Ternate Kini Jabat Kabinda Maluku Utara, Ini Profil Brigjen TNI R Moch Iskandarmanto
| Wagub Maluku Utara Minta CJH Tidak Terpengaruh Isu Konflik Timur Tengah |
|
|---|
| Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub Ajak Masyarakat Jaga Kebersihan dan Fasilitas Taman Woyogula |
|
|---|
| Ketahuan Selingkuh hingga Lakukan KDRT, Pasutri di Taliabu Dipulangkan ke Desa Asal |
|
|---|
| Bupati Halmahera Tengah Paparkan Strategi Kebijakan Perikanan Nasional di Unkhair Ternate |
|
|---|
| Tanggapi Keluhan Warga, Bupati Halmahera Timur Ubaid Yakub Hentikan Sementara Operasional PT JAS |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Kata-Kepala-BBPPTP-Ambon-tentang-potensi-alam-Maluku-Utara.jpg)