Opini
Keadilan Spasial: Mereformasi Logistik Bencana di Pesisir Loloda
Bagi wilayah seperti Loloda Utara, Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara akses darat ini bukan sekadar aspal, itu adalah urat nadi keselamatan
Amir Jurumudi
Sekjen BI20KRAT/Alumni IPDN XX
INDONESIA tengah berada dalam dekade yang penuh tantangan. Perubahan iklim bukan lagi sekadar narasi di atas kertas akademik, melainkan kenyataan pahit yang hadir melalui bencana hidrometeorologi yang kian intens.
Namun, di balik statistik bencana nasional, terselip sebuah realitas yang getir: ketimpangan respons.
Saat pusat kekuasaan sibuk dengan mitigasi berbasis teknologi mutakhir, warga di pelosok Indonesia Timur seperti di Desa Tolofuo dan Desa Totala, Kecamatan Loloda Utara seringkali harus bertaruh nyawa menghadapi alam dalam kesunyian.
Sebagai seorang praktisi tata kelola pemerintahan, alumni Pascasarjana Universitas Indonesia, penulis melihat fenomena ini dari lensa tanggung jawab birokrasi.
Berbekal pengalaman mengikuti studi singkat terkait manajemen bencana di Jepang, penulis mencermati bahwa kunci ketangguhan sebuah negara kepulauan terletak pada kemandirian logistik di titik-titik perifer.
Di Jepang, kedaulatan keselamatan adalah harga mati yang didesentralisasikan hingga ke level komunitas terkecil.
Di tengah tantangan geografis yang masif, kita perlu memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen Pemprov Maluku Utara.
Langkah strategis Pemprov dalam menggenjot pembangunan Jalan Lintas Halmahera merupakan sebuah terobosan "pemutus isolasi" yang nyata.
Jalan sebagai Nadi Kemanusiaan Upaya mitigasi ini sejalan dengan komitmen penuh Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, yang terus mendorong percepatan infrastruktur di wilayah 3T.
Dalam berbagai kesempatan, Ibu Gubernur menegaskan bahwa pembukaan ruas jalan lintas bukan sekadar proyek fisik, melainkan upaya negara untuk hadir secara utuh.
"Pembangunan jalan lintas provinsi di Halmahera adalah komitmen kami untuk memastikan bahwa tidak ada lagi masyarakat yang terisolasi saat bencana melanda. Kita membangun jalan ini sebagai nadi kemanusiaan agar distribusi bantuan dan akses kesehatan bisa menjangkau warga secepat mungkin, tanpa harus selalu bergantung pada kondisi laut yang tidak menentu, "ungkap Ibu Gubernur Provinsi Maluku Utara.
Pembangunan jalan sepanjang kurang lebih 100 kilometer yang menghubungkan wilayah terpencil di Halmahera Barat hingga ke Utara, didukung dengan alokasi anggaran yang konsisten setiap tahunnya, kini mulai menampakkan hasil.
Bagi wilayah seperti Loloda Utara, akses darat ini bukan sekadar aspal; ia adalah urat nadi keselamatan. Dengan terhubungnya daerah-desa terpencil melalui jalan lintas provinsi, ketergantungan mutlak pada jalur laut yang seringkali lumpuh akibat cuaca ekstrem dapat diminimalisir.
Ini adalah langkah teknokratis yang sejalan dengan konsep redundancy dalam manajemen bencana: memiliki alternatif akses logistik untuk menjamin kelangsungan hidup warga saat jalur utama terputus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Amir-Jurumudi-Sekjen-BI20KRATAlumni-IPDN-XX.jpg)