Kamis, 7 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Liputan Wisata

Menelusuri Jejak Kopi di Benteng Oranje Ternate Pada Era Kolonial

Dalam sejarahnya, kopi mulai mendapatkan peran penting ketika VOC menerapkan kebijakan hongitochten pada 1625, yakni pembasmian tanaman rempah

Tayang: | Diperbarui:
TribunTernate.com/Iga Almira Rugaya Assagaf
LOCAL EXPERIENCE - Budayawan sekaligus Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Ternate, Rinto Taib ketika diwawancarai di Benteng Oranje, Kelurahan Gamalama, Kecamatan Ternate Tengah, Kota Ternate, Maluku Utara, Senin (8/12/2025). Di mana, Rinto Taib menjelaskan soal adanya jejak kopi di Benteng Oranje Ternate pada era kolonial. 

Uniknya, Rinto Taib menjelaskan bahwa meski terdapat rumah tungku di belakang rumah Gubernur Jenderal VOC untuk mengolah kopi pada saat itu, prosesnya tidak semudah yang dibayangkan, karena keterbatasan moda transportasi saat itu.

"Tentu di masa itu tidak ada kendaraan seperti sekarang, oleh sebab itu tenaga manusialah satu-satunya yang bisa dimanfaatkan. Beruntung, saat itu pengolahan kopi di perkebunan sudah cukup modern,"

"Maka ada moda angkutan berupa kereta yang digunakan untuk mengangkut biji kopi ini ke Benteng Oranje. Ada jalur keretanya namun sayang saat ini kita tidak bisa melihat jalur itu lagi karena pembangunan yang ada. Jalur itu sudah tertutup aspal,"

"Tetapi, informasi ini masih terus diwariskan dari generasi ke generasi. Bahwa pada saat itu, ada jalur kereta yang digunakan untuk mengangkut biji kopi dari perkebunan ke dalam Benteng Oranje," tuturnya.

Seiring waktu, kata Rinto Taib, perkebunan kopi di Torano mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan dan perubahan minat pasar. Meski demikian, sisa-sisa tanaman kopi liberika masih dapat ditemukan, meski tidak lagi dibudidayakan secara khusus seperti pada masa kolonial.

Dalam konteks kekinian, budaya minum kopi masih hidup di Benteng Oranje. Kawasan ini kini menjadi ruang publik dan destinasi favorit masyarakat untuk menikmati kopi.

Hampir setiap kafe dan pelaku UMKM di dalam benteng menyediakan menu kopi, meski jenis yang disajikan umumnya robusta, bukan lagi liberika seperti di masa lalu.

"Liberika kini tidak terlalu diminati karena harganya mahal meskipun masih banyak peminatnya karena memiliki cita rasa yang eksklusif lebih dari arabika maupun robusta," kata Rinto Taib.

Menurutnya, mengangkat kisah kopi dalam peringatan Hari Rempah Nasional menjadi penting karena kopi juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan politik ekonomi global yang kuat. 

Kopi pernah menjadi komoditas strategis yang menggantikan pala dan cengkeh akibat kebijakan kolonial, sekaligus memperkuat posisi Ternate dalam peta perdagangan dunia.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda untuk memahami bahwa julukan Kota Rempah bukan sekadar slogan, melainkan refleksi dari perjalanan sejarah panjang Ternate

Pemahaman terhadap jejak kopi, rempah, dan peninggalan sejarah seperti Benteng Oranje diharapkan dapat memperkuat identitas budaya sekaligus mendukung pengembangan city branding Kota Ternate sebagai Kota Rempah.

"Kami dari Pemerintah Daerah tentu selalu berupaya untuk memperkuat city branding Kota Ternate Kota Rempah. Termasuk mendukung para UMKM yang menjual produk olahan berbahan rempah." Pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Ternate
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved