Liputan Wisata
Menelusuri Jejak Kopi di Benteng Oranje Ternate Pada Era Kolonial
Dalam sejarahnya, kopi mulai mendapatkan peran penting ketika VOC menerapkan kebijakan hongitochten pada 1625, yakni pembasmian tanaman rempah
Penulis: Iga Almira Rugaya Assagaf | Editor: Iga Almira Rugaya Assagaf
Uniknya, Rinto Taib menjelaskan bahwa meski terdapat rumah tungku di belakang rumah Gubernur Jenderal VOC untuk mengolah kopi pada saat itu, prosesnya tidak semudah yang dibayangkan, karena keterbatasan moda transportasi saat itu.
"Tentu di masa itu tidak ada kendaraan seperti sekarang, oleh sebab itu tenaga manusialah satu-satunya yang bisa dimanfaatkan. Beruntung, saat itu pengolahan kopi di perkebunan sudah cukup modern,"
"Maka ada moda angkutan berupa kereta yang digunakan untuk mengangkut biji kopi ini ke Benteng Oranje. Ada jalur keretanya namun sayang saat ini kita tidak bisa melihat jalur itu lagi karena pembangunan yang ada. Jalur itu sudah tertutup aspal,"
"Tetapi, informasi ini masih terus diwariskan dari generasi ke generasi. Bahwa pada saat itu, ada jalur kereta yang digunakan untuk mengangkut biji kopi dari perkebunan ke dalam Benteng Oranje," tuturnya.
Seiring waktu, kata Rinto Taib, perkebunan kopi di Torano mengalami penyusutan akibat alih fungsi lahan dan perubahan minat pasar. Meski demikian, sisa-sisa tanaman kopi liberika masih dapat ditemukan, meski tidak lagi dibudidayakan secara khusus seperti pada masa kolonial.
Dalam konteks kekinian, budaya minum kopi masih hidup di Benteng Oranje. Kawasan ini kini menjadi ruang publik dan destinasi favorit masyarakat untuk menikmati kopi.
Hampir setiap kafe dan pelaku UMKM di dalam benteng menyediakan menu kopi, meski jenis yang disajikan umumnya robusta, bukan lagi liberika seperti di masa lalu.
"Liberika kini tidak terlalu diminati karena harganya mahal meskipun masih banyak peminatnya karena memiliki cita rasa yang eksklusif lebih dari arabika maupun robusta," kata Rinto Taib.
Menurutnya, mengangkat kisah kopi dalam peringatan Hari Rempah Nasional menjadi penting karena kopi juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan politik ekonomi global yang kuat.
Kopi pernah menjadi komoditas strategis yang menggantikan pala dan cengkeh akibat kebijakan kolonial, sekaligus memperkuat posisi Ternate dalam peta perdagangan dunia.
Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda untuk memahami bahwa julukan Kota Rempah bukan sekadar slogan, melainkan refleksi dari perjalanan sejarah panjang Ternate.
Pemahaman terhadap jejak kopi, rempah, dan peninggalan sejarah seperti Benteng Oranje diharapkan dapat memperkuat identitas budaya sekaligus mendukung pengembangan city branding Kota Ternate sebagai Kota Rempah.
"Kami dari Pemerintah Daerah tentu selalu berupaya untuk memperkuat city branding Kota Ternate Kota Rempah. Termasuk mendukung para UMKM yang menjual produk olahan berbahan rempah." Pungkasnya. (*)
| Kajati Maluku Utara Dorong Pembenahan Wisata Pulau Meti untuk Dongkrak Ekonomi |
|
|---|
| Komunitas Pemuda Sadar Wisata Minta Pemkab Halmahera Timur Serius Kembangkan Sektor Wisata |
|
|---|
| Pemuda Desa Loleolamo Dorong Master Plan Pulau Paniki Jadi Ikon Wisata Halmahera Timur |
|
|---|
| Taman Woyogula Ramai Dikunjungi Warga Halmahera Timur Pasca Lebaran |
|
|---|
| Pesona Mangrove Pantai Lopon: Primadona Wisata Halmahera Timur yang Membutuhkan Sentuhan Pembenahan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/rinto-taib_jejak-kopi_2.jpg)