Liputan Wisata
Menelusuri Jejak Kopi di Benteng Oranje Ternate Pada Era Kolonial
Dalam sejarahnya, kopi mulai mendapatkan peran penting ketika VOC menerapkan kebijakan hongitochten pada 1625, yakni pembasmian tanaman rempah
Penulis: Iga Almira Rugaya Assagaf | Editor: Iga Almira Rugaya Assagaf
TRIBUNTERNATE.COM, TERNATE - Benteng Oranje di Kota Ternate ternyata tidak hanya menyimpan jejak sejarah rempah-rempah seperti pala dan cengkeh, tetapi juga menyimpan kisah panjang tentang kopi yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan kolonial.
Jejak itu kini kembali diulas bertepatan dengan peringatan Hari Rempah Nasional, 11 Desember 2025. Budayawan sekaligus Sekretaris Dinas Kebudayaan Kota Ternate, Rinto Taib, bercerita, sejak kedatangan bangsa Eropa pada akhir abad ke-16, Benteng Oranje bukan hanya berfungsi sebagai benteng pertahanan, tetapi juga sebagai pusat permukiman dan kehidupan bangsa kolonial.
Kehadiran Belanda pada 1599 membawa perubahan besar dalam pola perdagangan rempah, yang tidak lagi terbatas pada pala dan cengkeh, tetapi juga mencakup komoditas lain seperti lada, kayu manis, hingga kopi.
Baca juga: Pemda, BPK Wilayah XXI dan Pelaku Budaya Bicara Tenun Halmahera Barat: "Ini Harus Terus Ada"
Dalam sejarahnya, kopi mulai mendapatkan peran penting ketika VOC menerapkan kebijakan hongitochten pada 1625, yakni pembasmian tanaman pala dan cengkeh di luar Ambon. Kebijakan ini mendorong pencarian komoditas alternatif, dan kopi kemudian ditanam sebagai pengganti pala dan cengkeh di sejumlah wilayah, termasuk Ternate.
"Sehingga, dalam proses membasmi pala dan cengkeh tersebut ada kebijakan lain sebagai alternatif tanaman untuk menggantikan pala dan cengkeh adalah kopi." Jelas Rinto Taib, ketika diwawancarai pada Senin (8/12/2025), di Benteng Oranje Ternate.
Kopi yang berkembang di Ternate pada masa itu bukan jenis arabika atau robusta, melainkan liberika. Kata Rinto Taib, jenis kopi ini berasal dari Afrika dan dibawa melalui jalur perdagangan global.
Liberika dikenal memiliki nilai eksklusif dan harga yang mahal, sehingga konsumsinya kala itu lebih diperuntukkan bagi kalangan tertentu, terutama para petinggi Belanda dan bangsawan lokal.
"Peruntukkannya itu untuk apa? Yang pasti untuk memenuhi kebutuhan para petinggi yang menyukai cita rasa kopi yang bernilai mahal saat itu dan juga jenis kopi ini memiliki nilai ekslusif di kalangan masyarakat Ternate sendiri dan sekitarnya karena didatangkan dari luar dan menjadi komoditi yang sangat mahal." Ujarnya.
Selain itu kata Rinto Taib, sebagai pusat permukiman orang Eropa, Benteng Oranje juga dikenal sebagai City of Malayo, sebuah pusat kehidupan kota. Di kawasan inilah budaya minum kopi berkembang sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan kolonial. Kopi menjadi minuman istimewa yang disajikan dalam interaksi sosial, khususnya di kalangan bangsawan dan pejabat VOC.
"Artinya bahwa sebuah pusat kehidupan Kota, konsumsi kopi menjadi bagian dari gaya hidup orang Kota. Oleh sebab itu, konsumsi kopi sangat istimewa karena hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu misalnya bangsawan di keraton, serta untuk masyarakat di pemukiman benteng itu sendiri."
Jejak budaya kopi tersebut kata Rinto, masih dapat dilacak hingga kini melalui peninggalan arkeologis berupa rumah tungku yang berada di belakang bekas kediaman Gubernur Jenderal VOC di dalam Benteng Oranje.
Keberadaan tungku ini menjadi bukti kuat bahwa kopi memiliki posisi penting, tidak hanya sebagai komoditas perdagangan global, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari di benteng tersebut.
Sementara untuk kebutuhan perkebunan berskala besar, Rinto Taib menyebut bahwa kopi tidak ditanam di dalam kawasan Benteng Oranje. Lahan perkebunan kopi pada masa kolonial berada di wilayah daratan tinggi yang kini dikenal sebagai Kelurahan Malikurubu atau kawasan Torano.
"Karena dalam perkembangannya kopi tidak hanya untuk konsumsi kalangan tertentu saja tapi sudah bernulai industri yakni ekspor, maka diperlukan Kawasan yang khusus untuk tanaman kopi ini,"
"Hingga kini, kawasan tersebut masih dikenal masyarakat dengan sebutan Kaha Kopi atau Tanah Kopi, menandakan fungsinya sebagai bekas perkebunan kopi di era Belanda."
| Kajati Maluku Utara Dorong Pembenahan Wisata Pulau Meti untuk Dongkrak Ekonomi |
|
|---|
| Komunitas Pemuda Sadar Wisata Minta Pemkab Halmahera Timur Serius Kembangkan Sektor Wisata |
|
|---|
| Pemuda Desa Loleolamo Dorong Master Plan Pulau Paniki Jadi Ikon Wisata Halmahera Timur |
|
|---|
| Taman Woyogula Ramai Dikunjungi Warga Halmahera Timur Pasca Lebaran |
|
|---|
| Pesona Mangrove Pantai Lopon: Primadona Wisata Halmahera Timur yang Membutuhkan Sentuhan Pembenahan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/rinto-taib_jejak-kopi_2.jpg)