Opini
Strategi Dekapitasi Amerika dan Israel terhadap Iran
Nasionalisme, sebagai bentuk kesadaran kolektif, justru menemukan momentum penguatannya ketika menghadapi ancaman bersama
Strategi dekapitasi harus dipahami tidak hanya sebagai instrumen militer, tetapi sebagai praktik kultural yang sarat makna.
Ia adalah ritual di mana negara-negara yang sedang mengalami krisis internal menegaskan kembali kedaulatan mereka melalui pertunjukan kekuatan mematikan seperti yang saat ini dialami AS dan Israel.
Namun seperti diingatkan Hami Aziz (2026), bahwa kekuatan militer dapat menghancurkan infrastruktur, tetapi tidak dapat menghapus nasionalisme, dan satu lagi: resistensi.
Tentu saja, kita sadar bahwa masyarakat bukan mesin yang bisa dilumpuhkan dengan mencabut satu komponen kunci. Mereka adalah jaringan kompleks yang terus bergerak, beradaptasi, dan menemukan cara baru untuk bertahan.
Echevarria (2017) sendiri mengakui bahwa meskipun strategi dekapitasi dapat menurunkan efektivitas kelompok untuk sementara, ia mungkin tidak dapat menghancurkan organisasi secara permanen.
Sejauh ini, akibat serangan AS dan Iran di akhir Februari 2026, Iran telah kehilangan sejumlah pemimpin penting, tetapi denyut kehidupannya sebagai bangsa dengan segala kompleksitas sejarah, budaya dan jaringan sosialnya masih akan terus bergelora.
Strategi dekapitasi, menurut saya, bukanlah solusi, melainkan bagian dari problem itu sendiri. Yang paling penting sebenarnya adalah dialog dan bersikap adil termasuk keadilan terhadap Palestina.
Selama kedua itu tidak ada, maka siklus kekerasan ini akan terus berulang, melahirkan pemimpin-pemimpin baru yang mungkin lebih keras dari pendahulunya. (*)
Unkhair Ternate
| Kasus Chromebook Rp 9,9 Triliun: Ketika Fakta Sidang Berhadapan dengan Drama Media Sosial |
|
|---|
| Tubuh Perempuan Bukan Wilayah Bebas |
|
|---|
| Menjemput Ruh Para Sultan di Kursi Bioskop |
|
|---|
| Wellness tourism Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Daerah di Provinsi Maluku Utara |
|
|---|
| Tanah Ulayat dalam Cengkeraman Kapital: Ketika Pembangunan Menggeser Hak Masyarakat Adat |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/OPINI-Yanuardi-Syukur-selaku-Dosen-Antropologi-Unkhair-Ternate.jpg)