Opini
Menjemput Ruh Para Sultan di Kursi Bioskop
Empat kursi kosong di panggung, tapi "empat ruh besar" seolah hadir memenuhi ruangan. Saya tertegun.
Oleh : M.Guntur Alting
Ada yang tak biasa di XXI Jati Land. Biasanya, layar lebar itu memutar mimpi-mimpi dari Hollywood atau drama cinta dari Jakarta.
Tapi malam itu, udara Ternate terasa berbeda. Ada getaran yang lebih tua dari seluloid, lebih dalam dari sekadar hiburan.
Empat kursi kosong di panggung, tapi "empat ruh besar" seolah hadir memenuhi ruangan.
Saya tertegun. Di hadapan saya, sejarah tidak lagi hadir sebagai barisan angka tahun yang membosankan di buku teks sekolah.
Sejarah hadir sebagai monolog. Ia hadir sebagai desah napas, sebagai tetesan keringat, dan sebagai teriakan sunyi dari mereka yang pernah menghalau badai kolonial di tanah para raja.
Itulah deskripsi yang coba saya bangun melalui "imaginasi sosiologi(sosiological imagination) Wright Mills, ketika membaca jumpa pers jelang "Monolog Pahlawan Nasional: Jejak Perjuangan dari Moloku Kie Raha," yang linknya dikirim oleh Pemred Pikiran Ummat Usman Sergie.
-000-
Amar Ome, sang sutradara yang juga akademisi di Unkhair, tidak sedang bermain-main. Ia tidak memilih film kolosal dengan ribuan figuran.
Ia memilih Monolog.
Dalam dunia kepenulisan, kita tahu bahwa monolog adalah bentuk pengakuan yang paling intim. Ia adalah dialog antara seseorang dengan nuraninya sendiri.
Ketika Azis Hakim memerankan Sultan Babullah, ia tidak hanya sekadar menghafal naskah. Ia sedang melakukan perjalanan spiritual ke masa lalu.
Ia membawa memori ke atas panggung, mengubah panggung bioskop menjadi medan laga emosional.
Saya bisa membayangkan bagaimana Asrul NL bergulat dengan karakter Sultan Nuku. Menjadi "Prince of Liberty" bukan perkara kostum yang gagah.
Ini tentang bagaimana memindahkan "napas panjang" sang penguasa laut itu ke dalam dada seorang aktor. Ini adalah sebuah pertaruhan jiwa.
-000-
Lalu ada Syahrir Ibnu, sahabat saya. Seorang sosiolog yang mendadak harus menjadi Salahuddin Bin Talabuddin.
Di sini, sains bertemu dengan seni. Syahrir tahu benar bahwa Salahuddin bukan simbol kekuasaan politik semata, melainkan simbol perlawanan moral.
Ia adalah guru ngaji yang keyakinannya lebih tajam dari bayonet Belanda. Lewat Syahrir, kita akan melihat bahwa sejarah bukan hanya milik para pemilik mahkota, tapi milik mereka yang memiliki iman yang tak tergoyahkan.
-000-
Yang membuat hati saya sedikit berdesir adalah daftar penulis naskahnya.
Ada nama Saiful Bahri Ruray, Asgar Saleh, hingga Herman Oesman. Dan tentu saja, almarhum Irfan Ahmad.
Membaca nama Irfan Ahmad dalam karya ini seperti melihat sebuah wasiat kebudayaan.
Almarhum adalah seorang penjaga gawang ingatan. Bahwa naskah terakhirnya dipentaskan di panggung megah ini adalah sebuah "penghormatan" yang layak.
Sejarah memang selalu punya cara untuk menghargai para pencatatnya.
Mereka yang telah tiada tetap bicara lewat diksi yang tajam dan menggugah.
-000-
Mengapa pementasan ini penting bagi kita hari ini?
Di tengah riuhnya "ilusi pencitraan" dan bisingnya politik praktis yang sering kita baca di media, monolog ini hadir sebagai oase.
Ia mengingatkan kita bahwa identitas Maluku Utara bukan dibangun di atas baliho, melainkan di atas keringat dan darah para pahlawan nasional ini.
Membayar 100 ribu untuk sebuah tiket di sini bukanlah tentang biaya hiburan. Itu adalah bentuk apresiasi terhadap martabat.
Saat tokoh-tokoh penting Maluju Utara memesan tempat, mereka sedang mengirim pesan: bahwa narasi sejarah kita terlalu mahal untuk dibiarkan hilang ditelan zaman.
--000-
Pada akhirnya, panggung XXI itu pada saatnya nanti akan segera gelap. Lampu akan padam, dan aktor akan mulai bicara.
Saat itulah, batas antara masa lalu dan masa kini akan lebur. Kita tidak lagi melihat aktor yang berakting. Kita akan melihat Babullah, Nuku, Zainal Abidin Sjah, dan Salahuddin hadir di depan mata kita.
Mereka tidak datang untuk menuntut balas, tapi untuk bertanya pada kita yang masih hidup:
"Setelah kemerdekaan ini kami rebut dengan nyawa, apa yang telah kau perbuat untuk tanah ini?"
Bersiaplah. Sejarah sedang mengetuk pintu kesadaran kita di Ternate.
Lembah Cinere Depok, 24 April 2026
Pukul : 05.10
| Wellness tourism Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Daerah di Provinsi Maluku Utara |
|
|---|
| Tanah Ulayat dalam Cengkeraman Kapital: Ketika Pembangunan Menggeser Hak Masyarakat Adat |
|
|---|
| Rolemodel Hikmah Puasa Ramadan |
|
|---|
| Strategi Dekapitasi Amerika dan Israel terhadap Iran |
|
|---|
| “Disciplined Conversation” dan Pencegahan Korupsi di Desa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Monolog-Pahlawan-Nasional-Moloku-Kie-Raha-Siap-Pentas-Perdana-April-2026-di-Ternate-8.jpg)