Breaking News:

Terkini Internasional

Protes Anti-Kudeta Militer, Aktivis Myanmar Serukan Warga Stop Bayar Tagihan Listrik dan Pinjaman

Aktivis anti-kudeta militer Myanmar menyerukan bentuk protes non-kooperatif kepada masyarakat.

Penulis: Rizki A. Tiara | Editor: Rohmana Kurniandari
AFP/STR via Channel News Asia
Masyarakat memprotes kudeta militer Myanmar. 

TRIBUNTERNATE.COM - Aktivis anti-kudeta militer Myanmar menyerukan bentuk protes non-kooperatif.

Pada Senin (26/4/2021), para aktivis menyerukan warga untuk berhenti membayar tagihan listrik dan pinjaman pertanian, serta menjauhkan anak-anak mereka dari sekolah.

Mereka juga mencemooh janji yang disampaikan jenderal tertinggi Myanmar pada puncak pertemuan regional untuk mengakhiri krisis pasca-kudeta.

Gelombang protes terjadi di kota-kota besar di Myanmar pada Minggu (25/4/2021), sehari setelah Jenderal Senior Min Aung Hlaing mencapai kesepakatan pada pertemuan puncak Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) di Indonesia.

Masyarakat memprotes kudeta militer Myanmar.
Masyarakat memprotes kudeta militer Myanmar. (AFP/STR via Channel News Asia)

Baca juga: Kenang Momen Bersama Kolonel Harry Setiawan, Susi Pudjiastuti: Terima Kasih Luar Biasa

Baca juga: TNI AL Dapat Tawaran dari ISMERLO untuk Evakuasi KRI Nanggala-402, Apa itu ISMERLO?

Baca juga: KSAL Menduga Awak KRI Nanggala-402 Sudah Keluarkan Baju Keselamatan tapi Belum Sempat Memakai

Baca juga: Mengenal Canggihnya Kapal MV Swift Rescue Singapura yang Temukan Kontak Visual KRI Nanggala-402

Kepala junta tidak menuruti seruan pembebasan para tahanan politik Myanmar, termasuk pemimpin pemerintah sipil yang digulingkan, Aung San Suu Kyi, dan kesepakatan ASEAN tidak memiliki waktu yang cukuo untuk mengakhiri krisis di negara tersebut.

Diperkirakan 750 orang tewas oleh pasukan keamanan, ketika para jenderal Myanmar melepaskan kekuatan mematikan dalam menghadapi protes berkelanjutan terhadap kudeta yang bermula pada 1 Februari 2021 lalu.

Dikutip dari Channel News Asia, Reuters tidak dapat memastikan jumlah korban tewas, karena junta secara signifikan telah mengekang kebebasan media, dan banyak jurnalis yang ditahan.

Sementara itu, lembaga bantuan internasional memperingatkan, pembangkangan sipil dan aksi pemogokan telah melumpuhkan ekonomi dan mempertinggi kasus kelaparan.

Aktivis pro-demokrasi telah menyerukan intensifikasi upaya mereka mulai Senin hari ini dengan menolak membayar tagihan listrik dan pinjaman pertanian, dan meminta anak-anak berhenti sekolah.

"Kami semua, orang-orang di kota-kota dan kemudian daerah dan negara bagian harus bekerja sama untuk membuat boikot yang berhasil terhadap junta militer," kata aktivis Khant Wai Phyo dalam pidatonya di sebuah protes di pusat kota Monywa, Minggu. 

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved