Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Terkini Internasional

Dirjen WHO: Gambaran Situasi Pandemi Covid-19 di India Sangat Memilukan

"Situasi di India sangat memilukan," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan.

AFP/FABRICE COFFRINI
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss, Rabu (11/3/2020), menyampaikan penilaian bahwa virus corona jenis baru (COVID-19) sebagai pandemi. 

TRIBUNTERNATE.COM - Pandemi virus corona penyebab penyakit Covid-19 di India saat ini tengah menjadi sorotan dunia.

Sebab, India yang sebelumnya dianggap berhasil melandaikan kurva pandemi kini mengalami lonjakan kasus infeksi yang tinggi.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyerukan kewaspadaan atas gelombang kasus infeksi dan kematian akibat Covid-19 yang memecahkan rekor di India, Senin (26/4/2021).

Ia mengatakan, WHO juga bergegas untuk membantu mengatasi krisis tersebut.

"Situasi (pandemi Covid-19, red.) di India sangat memilukan," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan, sebagaimana dikutip dari Channel News Asia.

Tedros mengungkapkan hal ini, ketika India memerangi gelombang virus corona yang telah membuat rumah sakit kewalahan.

Sementara, krematorium beroperasi dengan kapasitas penuh setiap harinya.

Lonjakan kasus infeksi di India terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Banyak keluarga pasien yang turun ke media sosial untuk meminta informasi pasokan oksigen dan lokasi tempat tidur rumah sakit yang tersedia.

Sementara itu, wilayah ibu kota New Delhi memperpanjang penguncian sementara (kuncitara) atau lockdown selama seminggu.

Seorang petugas kesehatan yang mengenakan peralatan Pelindung Pribadi (APD) berdiri bersama pasien saat dipindahkan ke unit perawatan intensif (ICU), di dalam ambulans di pusat pemulihan untuk merawat pasien virus corona Covid-19, di Mumbai pada 22 April 2021.
Seorang petugas kesehatan yang mengenakan peralatan Pelindung Pribadi (APD) berdiri bersama pasien saat dipindahkan ke unit perawatan intensif (ICU), di dalam ambulans di pusat pemulihan untuk merawat pasien virus corona Covid-19, di Mumbai pada 22 April 2021. (Punit PARANJPE/AFP)

Baca juga: Tsunami Covid-19 di India, Kasus Infeksi Melonjak 30 Kali Lipat, Ahli Ungkap Penyebabnya

Baca juga: Setiap 5 Menit 1 Orang Meninggal karena Covid-19 di New Delhi, India

Baca juga: Varian Virus Corona Tiga Mutasi B.1.618 Memperparah Lonjakan Pandemi di India

Baca juga: Mengapa Kasus Positif Covid-19 Meroket di India? Ini Penyebabnya Kata Pakar

"WHO melakukan segala yang kami bisa, menyediakan peralatan, dan pasokan penting," kata Tedros.

Dia mengatakan, badan kesehatan PBB telah mengirimkan "ribuan konsentrator oksigen, prefabrikasi rumah sakit lapangan bergerak dan persediaan laboratorium."

WHO juga mengatakan, pihaknya telah memindahkan lebih dari 2.600 ahli dari berbagai program, termasuk polio dan tuberkulosis, untuk bekerja dengan otoritas kesehatan India guna membantu mengatasi pandemi Covid-19

Negara berpenduduk 1,3 miliar itu telah menjadi hotspot terbaru dari Covid-19 yang telah menewaskan lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia.

Diketahui, Amerika Serikat dan Inggris mengirimkan ventilator dan bahan vaksin untuk membantu India mengatasi krisis pandemi, sementara sejumlah negara lain juga akan mengirimkan bantuan.

Suplai tabung oksigen medis di berbagai wilayah di India kini sangat rendah mengingat kasus Covid-19 yang kembali melonjak. Orang-orang antre mengisi tabung oksigen untuk pasien Covid-19 di Allahabad.
Suplai tabung oksigen medis di berbagai wilayah di India kini sangat rendah mengingat kasus Covid-19 yang kembali melonjak. Orang-orang antre mengisi tabung oksigen untuk pasien Covid-19 di Allahabad. (AFP/Sanjay Kanojia)

Baca juga: Merasa Berlaku Tak Adil, Ayah Kandung Betrand Peto Minta Maaf kepada Sang Putra: Bapak Salah Besar

Baca juga: PNS di Makassar Jadi Sorotan, Punya Harta Kekayaan Rp56 Miliar, Naik Rp48 Miliar selama 2 Tahun

Baca juga: Jokowi Diminta Evaluasi Kinerja Prabowo, Insiden KRI Nanggala-402 Bertolak Belakang dengan Anggaran

Baca juga: Di-bully di Sosmed karena Kasus Rizieq Shihab, Ini Respon Wali Kota Bogor Bima Arya

LONJAKAN KASUS GLOBAL

Sejak virus yang menyebabkan Covid-19 pertama kali muncul di China pada akhir 2019, penyakit itu telah menewaskan lebih dari 3,1 juta orang dari setidaknya 147 juta yang terinfeksi, menurut penghitungan dari sumber resmi yang dikumpulkan oleh AFP.

Pada Senin kemarin, Tedros menyesalkan bahwa jumlah kasus baru global telah meningkat selama sembilan minggu terakhir secara berturut-turut.

"Singkatnya," katanya, "jumlah kasus infeksi Covid-19 di seluruh dunia minggu lalu hampir sama seperti jumlah kasus dalam lima bulan pertama pandemi."

Amerika Serikat tetap menjadi negara yang paling parah terkena dampak pandemi Covid-19, dengan sekitar 572.200 kematian dan lebih dari 32 juta infeksi.

Kemudian, Brasil dan Meksiko menduduki urutan kedua dan ketiga.

Namun, India, yang berada di tempat keempat, dalam beberapa hari terakhir telah mendorong beban kasus  infeksi global.

India mencatat 2.812 kasus kematian baru dan 352.991 kasus infeksi baru dalam 24 jam pada hari Senin kemarin, dan ini merupakan jumlah korban tertinggi sejak dimulainya pandemi.

Sementara, lebih dari 195.000 kematian telah tercatat di negara itu sejak pandemi bermula.

"Pertumbuhan eksponensial yang telah kami lihat dalam jumlah kasus benar-benar mencengangkan," kata Maria Van Kerkhove, pimpinan teknis WHO untuk Covid-19, kepada wartawan.

Dia memperingatkan bahwa kasus di India tidaklah unik, dengan menunjukkan bahwa sejumlah negara telah melihat "lintasan peningkatan penularan yang serupa."

"Ini bisa terjadi di berbagai negara ... jika kita lengah," katanya.

"Kita semua berada dalam situasi yang rapuh," lanjutnya.

PUKULAN TERHADAP SKEMA COVAX

Sementara itu, krisis India telah berdampak pada program Covax yang bertujuan untuk memberikan akses distribusi yang adil terhadap vaksin Covid-19, dengan fokus khusus pada 92 negara miskin.

Sebelum ada lonjakan kasus, India mengekspor puluhan juta dosis vaksinAstraZeneca yang dibuat di dalam negeri oleh Serum Institute melalui Covax, yang dijalankan bersama oleh WHO, aliansi vaksin Gavi, dan Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI).

Namun, begitu kasus mulai melonjak, New Delhi membekukan ekspor - termasuk ke Covax - untuk memprioritaskan India.

Hal ini menyebabkan skema Covax kekurangan 90 juta dosis yang awalnya ditujukan untuk 60 negara berpenghasilan rendah pada bulan Maret dan April 2021, kata WHO dan Gavi.

"Vaksin itu belum tersedia karena krisis di India. Sekarang vaksin masih digunakan di dalam negeri," kata ketua Gavi Seth Berkley.

Covax, katanya, "sedang mencari opsi lain" sambil menunggu pasokan vaksin dilanjutkan.

Misalnya, mitra Covax telah mengimbau negara-negara yang memiliki dosis vaksin berlebih untuk membaginya dengan program tersebut.

Gavi Seth Berkley mengatakan bahwa ini adalah "hari-hari awal" dalam diskusi tersebut, tetapi sejauh ini Prancis, Selandia Baru, dan Spanyol telah berjanji untuk membagikan sebagian dari dosis vaksin yang mereka miliki.

Hingga saat ini, sekitar 40,8 juta dosis vaksin Covid-19 telah didistribusikan ke 118 negara dan wilayah melalui  skema Covax.

SUMBER: Channel News Asia

(TribunTernate.com/Rizki A)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved