Mengenal Sosok Naftali Bennett, Perdana Menteri Baru Israel yang Gantikan Benjamin Netanyahu
Naftali Bennett dilantik pada Minggu (13/6/2021) sebagai perdana menteri baru Israel, menggantikan perdana menteri sebelumnya, Benjamin Netanyahu.
Bennett setuju untuk menjabat sebagai perdana menteri Israel selama dua tahun sebelum menyerahkan kekuasaan kepada Yair Lapid, arsitek koalisi baru.
Pendukung Netanyahu telah mencap Bennett sebagai pengkhianat, dengan mengatakan dia telah menipu pemilih.
Bennett pun membela diri dengan menyebut keputusannya sebagai langkah pragmatis yang bertujuan untuk menyatukan negara dan menghindari pemilihan putaran kelima.
Baca juga: Pegawai KPK yang Dinilai Tidak Memenuhi Syarat Minta Keterbukaan atas Hasil TWK
Baca juga: Ada Wacana Pajak Sembako dan Pendidikan, Mardani Ali Sera: Pemerintah Tidak Peka terhadap Rakyat
PERGESERAN GENERASI
Naftali Bennett, merupakan seorang Yahudi Ortodoks modern.
Ia akan menjadi perdana menteri pertama Israel yang secara teratur mengenakan kippa, kopiah yang dikenakan oleh orang-orang Yahudi yang taat.
Dia tinggal di pinggiran kota Tel Aviv yang mewah di Raanana, bukan di pemukiman yang dia dukung.
Orangtua Bennett lahir di Amerika Serikat.
Bennett memulai kehidupan dengan orang tuanya di Haifa, lalu ia berpindah-pindah bersama keluarganya antara Amerika Utara dan Israel, serta untuk dinas militer, sekolah hukum, dan sektor swasta.
Secara keseluruhan, Bennett mewujudkan persona yang modern, religius, sekaligus nasionalis.
Setelah bertugas di unit komando elit Sayeret Matkal, Bennett melanjutkan studi ke sekolah hukum di Universitas Ibrani.
Pada tahun 1999, ia ikut mendirikan Cyota, sebuah perusahaan perangkat lunak anti-penipuan yang dijual pada tahun 2005 ke RSA Security yang berbasis di AS seharga 145 juta dolar AS.
Bennett mengatakan pengalaman pahit perang Israel 2006 melawan kelompok militan Lebanon Hizbullah telah mendorongnya untuk terjun ke dunia politik.
Perang yang berlangsung selama sebulan itu berakhir dengan tidak meyakinkan, dan kepemimpinan militer dan politik Israel pada saat itu secara luas dikritik karena ceroboh dalam kampanye.
Bennett mewakili generasi ketiga pemimpin Israel, tepatnya setelah generasi para pendiri negara dan generasi Netanyahu, yang berkembang selama tahun-tahun awal negara yang tegang yang ditandai dengan perang berulang dengan negara-negara Arab.