Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

Penjelasan Prof. Zubairi Djoerban tentang Hubungan antara Kepadatan Penduduk dan Penyebaran Covid-19

Zubairi Djoerban menyebut bahwa kepadatan penduduk yang tinggi bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi tingginya penularan Covid-19.

Kompas.com/Sania Mashabi
Dokter spesialis penyakit dalam (internis) sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM. Ia menyebut bahwa kepadatan penduduk yang tinggi bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi tingginya penularan Covid-19. 

TRIBUNTERNATE.COM - Dokter spesialis penyakit dalam (internis) senior Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM memberikan penjelasan mengenai korelasi antara kepadatan penduduk di suatu daerah dan tingkat penularan Covid-19.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Satgas Kewaspadaan dan Kesiagaan Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tersebut lewat utas cuitan di akun Twitter-nya, @ProfesorZubairi, dikutip TribunTernate.com pada Minggu (5/9/2021).

Mulanya, Zubairi Djoerban menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan pertanyaan 'apakah ada korelasi antara kepadatan penduduk yang tinggi dan penyebaran Covid-19?'

Yang mana korelasi tersebut dimaknai berbanding lurus; daerah dengan kepadatan penduduk lebih rendah, maka tingkat penularan Covid-19nya juga lebih rendah, begitu pula sebaliknya.

"Selamat pagi semua."

"Ada pertanyaan kepada saya begini: apakah ada korelasi antara kepadatan penduduk yang tinggi dan penyebaran Covid-19. Apakah artinya kepadatan penduduk yang lebih rendah berarti penularannya juga lebih rendah? Ini pendapat saya:" tulis Zubairi pada bagian awal utas cuitannya.

Baca juga: Rambut Rontok jadi Gejala Baru Long Covid, Bagaimana Rambut Rontok yang Masih Dikategorikan Normal?

Dokter spesialis penyakit dalam (internis) sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM.
Dokter spesialis penyakit dalam (internis) sekaligus Ketua Satgas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD-KHOM. (Kompas.com/Sania Mashabi)

Pada lanjutan utas cuitannya, Zubairi Djoerban menyebut, pertanyaan itu terdengar seperti hal yang masuk akal.

Namun, rupanya itu belum tentu terjadi, daerah dengan kepadatan penduduk lebih tinggi, misalnya kota-kota besar, belum tentu mengalami tingkat penularan Covid-19 yang tinggi pula.

Ia pun mencontohkan, kota Mumbai di India dan New York di Amerika Serikat.

Dua kota tersebut, meski memiliki kepadatan penduduk yang sama-sama tinggi, kondisi penularan Covid-19nya berbeda dengan kota besar lain seperti Seoul di Korea Selatan, Hanoi di Vietnam, atau bahkan Jakarta, Indonesia.

"Tampaknya hal itu seperti "tuduhan" masuk akal. Tapi, kalau lihat lebih rinci, kepadatan penduduk yang tinggi belum tentu rentan juga. Contoh Mumbai dan New York. Kondisinya kan berbeda dengan Seoul, Hanoi, bahkan Jakarta—yang juga punya kepadatan yang agak mirip." jelas Zubairi.

Baca juga: Zubairi Djoerban Tanggapi soal Banyaknya Penderita Covid-19 Meninggal Dunia saat Isolasi Mandiri

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak, Ketua Satgas Covid-19 IDI Zubairi Djoerban Sebut Lockdown Perlu Diterapkan

Di satu sisi, Zubairi Djoerban menyebut bahwa interaksi sosial yang lebih tinggi di kota-kota besar nan padat penduduk dapat membuat warganya melakukan kontak dengan banyak orang.

Namun, ia melanjutkan, angka positivitas atau positivity rate di kota besar tertentu, seperti Jakarta dan Hanoi, relatif lebih rendah dibandingkan dengan kota besar lain yang kepadatan penduduknya juga tinggi.

"Memang betul interaksi sosial itu lebih tinggi di kota-kota besar dan padat. Hal itu memungkinkan orang di kota itu melakukan kontak dengan banyak orang. Kemudian, kenapa Jakarta atau Hanoi punya positivity rate yang relatif rendah?" lanjutnya.

Baca juga: Ditantang Bupati Banjarnegara, KPK Akui Punya Bukti Kuat Budhi Sarwono Terima Uang Rp2,1 Miliar

Baca juga: Ahli: Varian Virus Corona Baru Mu Kemungkinan Besar Tak Lebih Dominan dari Varian Delta

Baca juga: BioFarma Produksi Alat Tes PCR Covid-19 Metode Kumur, Lebih Nyaman Ketimbang Tes Swab RT PCR

Sehingga, Zubairi Djoerban menyebut bahwa kepadatan penduduk yang tinggi bukanlah satu-satunya faktor yang mempengaruhi tingginya penularan Covid-19.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved