Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Terkini Internasional

Sepekan Invasi Rusia, PBB Sebut Puluhan Juta Nyawa di Ukraina Terancam dan dalam Risiko Tinggi

Komisioner Tinggi HAM PBB mengatakan, puluhan juta nyawa di Ukraina terancam seiring dengan meningkatnya konflik, Kamis (3/3/2022).

Sergei Supinsky/AFP
Pasukan militer Ukraina sedang mengumpulkan roket milik Rusia yang gagal meledak di Kiev/Kyiv, pada Sabtu (26/2/2022). 

TRIBUNTERNATE.COM - Invasi berupa 'operasi militer khusus' yang dilakukan Rusia ke wilayah bagian timur Ukraina telah memasuki hari kedelapan.

Diketahui, 'operasi militer khusus' itu diluncurkan pada Kamis (24/2/2022) pagi lalu.

Lebih dari sepekan berlalu, agresi Rusia membuat nyawa warga Ukraina berada dalam risiko tinggi.

Pada Kamis (3/3/2022), Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) Michelle Bachelet mengatakan, puluhan juta nyawa di Ukraina terancam seiring dengan meningkatnya konflik.

Ia menyerukan agar konflik segera dihentikan, saat membuka diskusi di Dewan Hak Asasi Manusia di Jenewa, Swiss tentang pembentukan komisi penyelidikan internasional atas dugaan pelanggaran oleh Rusia.

"Puluhan juta orang masih berada di Ukraina, dalam bahaya yang berpotensi mematikan."

"Saya sangat prihatin bahwa eskalasi operasi militer saat ini akan semakin meningkatkan kerusakan yang harus mereka hadapi," kata Bachelet, dikutip dari Channel News Asia.

Baca juga: Lebih dari 677.000 Orang Ukraina Mengungsi dari Serangan Rusia, Sebagian Besar ke Polandia

Baca juga: Sejumlah Perusahaan Multinasional Kompak Mundur dari Rusia, Ada Disney, Apple, hingga Boeing

Baca juga: Rusia Tak Lagi Kerahkan Pesawat Tempur ke Ukraina, Pakar AS Bingung dengan Strategi Vladimir Putin

Pasukan militer Ukraina sedang mengumpulkan roket milik Rusia yang gagal meledak di Kiev/Kyiv, pada Sabtu (26/2/2022).
Pasukan militer Ukraina sedang mengumpulkan roket milik Rusia yang gagal meledak di Kiev/Kyiv, pada Sabtu (26/2/2022). (Sergei Supinsky/AFP)

Duta Besar Rusia untuk dewan tersebut, Gennady Gatilov, menolak seruan untuk penyelidikan dugaan pelanggaran yang dilakukan negaranya.

Gennady justru mengecam apa yang disebutnya "rezim kriminal di Kyiv" dan menuduh Amerika Serikat dan Uni Eropa memasok senjata mematikan.

"Kami tidak melihat ada nilai tambah dalam debat hari ini," katanya, dalam perbincangan yang dilakukan melalui sambungan video tersebut.

Sementara itu, wakil menteri luar negeri pertama Ukraina Emine Dzhaparova mengatakan, pasukan Rusia melakukan tindakan yang sama dengan kejahatan perang dan meminta para pelaku untuk bertanggung jawab.

"Peristiwa baru-baru ini dengan jelas menunjukkan fakta bahwa pasukan Rusia yang bertempur di Ukraina melakukan pelanggaran dan pelanggaran hak asasi manusia yang paling terang-terangan, secara sistematis terlibat dalam tindakan yang jelas-jelas merupakan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan," kata Emine.

Emine Dzhaparova pun mendesak dewan untuk mengadopsi resolusi yang dibawa oleh Ukraina dan sekutunya, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa, yang akan meluncurkan penyelidikan internasional.

Resolusi itu diharapkan akan diambil dalam pemungutan suara pada hari Jumat, kata para diplomat negara-negara Barat.

Baca juga: Beda Sikap atas Konflik Rusia-Ukraina dan Israel-Palestina, FIFA dan UEFA Dianggap Standar Ganda

Pro Kontra Mengenai Desakan untuk Pembentukan Komisi Penyelidikan atas Dugaan Pelanggaran oleh Rusia

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved