Rabu, 29 April 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Konflik Rusia vs Ukraina

Penampakan Terbaru Warga Inggris yang Ditangkap Tentara Rusia di Ukraina, Bisa Terancam Hukuman Mati

Kini dua warga Inggris yang telah ditangkap oleh pasukan Rusia dikabarkan bisa terancam vonis hukuman mati.

Tayang:
Telegram/BBC
Aiden Aslin (kiri) dan Shaun Pinner (tengah). Keduanya merupakan warga negara Inggris yang terlibat dalam konflik di Ukraina melawan pasukan Rusia. 

TRIBUNTERNATE.COM - Banyak warga negara asing dari berbagai negara di dunia secara sukarela pergi ke Ukraina untuk membantu perang melawan pasukan militer Rusia.

Satu dari beberapa negara tersebut adalah Inggris, yang mana telah ada beberapa warganya berakhir ditangkap tentara Rusia.

Kini, dua warga Inggris yang telah ditangkap oleh pasukan Rusia dikabarkan bisa terancam vonis hukuman mati.

Dikutip dari BBC, dua warga Inggris tersebut adalah Aiden Aslin (28) dan Shaun Pinner (48).

Pada foto terbaru, keduanya tampak dihadirkan di dalam pengadilan yang diselenggarakan di wilayah pemberontak pro Rusia di Republik Rakyat Donetsk.

Baca juga: Mantan PM Rusia Ungkap Vladimir Putin Mulai Kehilangan Kepercayaan Diri dalam Perang Ukraina

Baca juga: Pawang Anjing hingga Petani Asal Inggris Ungkap Alasan Rela Bertaruh Nyawa demi Bantu Warga Ukraina

Aiden Aslin (kiri) dan Shaun Pinner (tengah). Keduanya merupakan warga negara Inggris yang terlibat dalam konflik di Ukraina melawan pasukan Rusia.
Aiden Aslin (kiri) dan Shaun Pinner (tengah). Keduanya merupakan warga negara Inggris yang terlibat dalam konflik di Ukraina melawan pasukan Rusia. (Telegram/BBC)

Berada di balik jeruji besi, ada juga satu warga Maroko bernama Saaudun Brahim.

Kini, Aslin dan Pinner dilaporkan dituntut sebagai tentara bayaran.

Pihak keluarga Aslin dan Pinner sendiri menegaskan bahwa mereka adalah resmi anggota pasukan militer Ukraina, bukan tentara bayaran.

Dalam pengadilan itu, Aslin dan Pinner hanya berbicara untuk mengonfirmasi bahwa mereka tahu tuntutan yang menjerat mereka.

Pihak keluarga menjelaskan, Aslin dan Pinner telah tinggal di Ukraina sejak tahun 2018 silam.

Inggris akan Beri Bantuan Rudal Jarak Jauh M270 ke Ukraina

Sementara itu, Inggris pada Senin (6/6/2022) mengatakan, pihaknya akan mengikuti Amerika Serikat dan mengirim sistem rudal jarak jauh ke Ukraina. Keputusan Inggris ini menentang peringatan dari Presiden Rusia Vladimir Putin agar tidak memasok senjata canggih ke Kyiv.

Kementerian Pertahanan Inggris berujar, London berkoordinasi erat dengan Washington atas pemberian sistem roket berpeluncur banyak yang dikenal sebagai MLRS untuk membantu Ukraina mempertahankan diri dari agresi Rusia.

Baca juga: Nilai Upaya Putin Pecah NATO Gagal, Biden Khawatir Putin Bingung Cara Akhiri Perang dengan Ukraina

Baca juga: Direktur CIA Menilai Putin Tak Bisa Terima Kekalahan dan akan Perparah Serangan ke Ukraina

Foto selebaran yang dirilis oleh Layanan Pers Kepresidenan Ukraina menunjukkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (kiri) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kanan) berjalan di pusat kota Kyiv, pada 9 April 2022.
Foto selebaran yang dirilis oleh Layanan Pers Kepresidenan Ukraina menunjukkan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (kiri) dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kanan) berjalan di pusat kota Kyiv, pada 9 April 2022. (FOTO AFP/LAYANAN PERS PRESIDEN UKRAINIAN)

Peluncur M270 yang dapat menyerang target hingga 80 kilometer jauhnya dengan roket berpemandu presisi ini akan "menawarkan peningkatan kemampuan yang signifikan bagi pasukan Ukraina," tambah Kemenhan Inggris dikutip Kompas.com dari AFP.

AS pekan lalu mengumumkan akan memberi Kyiv sistem roket artileri mobilitas tinggi dikenal sebagai HIMARS, yang secara bersamaan dapat meluncurkan beberapa rudal berpemandu presisi dan lebih unggul dalam jangkauan serta presisi dibandingkan persenjataan yang ada di Ukraina.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved