Pulau Morotai
Akademisi Unipas Morotai Sebut Rencana Kepala Daerah Dipilih DPR Merupakan Skenario Partai Penguasa
Akademisi Unipas Morotai: "Partai-partai Politik yang selama ini menurut saya gagal mencoba melakukan seleksi terhadap kader-kader pemimpin"
Penulis: Fizri Nurdin | Editor: Munawir Taoeda
TRIBUNTERNATE.COM, MOROTAI - Akademisi Universitas Pasifik (Unipas) Pulau Morotai, Maluku Utara Parto Sumtaki menyikapi pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto, kaitannya dengan Pemilihan Kepala Daerah baik Gubernur, Bupati dan Wali Kota dipilih oleh DPR.
Menurut Parto, problem dasar di Indonesia atau Demokrasi di Indonesia itu bukan ada pada soal mekanisme pemilihnya atau siapa yang memilih.
Tetapi ada pada kemampuan atau kompetensi elit dalam mengelola ruang tarung dalam demokrasi ini, sebagai ruang untuk melakukan seleksi kepemimpinan.
Baginya, tidak ada jaminan sebetulnya, jika Pilkada itu baik Gubernur, Bupati maupun Wali Kota.
Baca juga: 9.554 Warga Morotai Tidak Salurkan Hak Pilih pada Pilkada 2024
Dipilih oleh DPR, lalu itu dianggap menghemat pembiayaan atau anggaran, karena kata dia, selama elitnya tidak kompatibel, elitnya tidak kompeten dan budaya politik itu, sebagaimana yang tersaji selama ini
Maka lanjut Parto, sebetulnya hal-hal tersebut atau problem tersebut itu akan sulit dipecahkan, karena mereka yang akan maju sebagai kepala Daerah di masa depan.
Jika memang rancangan Undang-undang tentang Pemilihan Kepala Daerah ini final atau tembus, dan ditetapkan bahwa nanti akan dipilih oleh DPRD Provinsi maupun Kabupaten kota.
Maka tetap saja akan menggunakan, fasilitas atau alat dalam bentuk uang sebagai bagian dari keterpilihannya.
"Jadi problem kita itu ada pada Infrastruktur politik, partai-partai politik yang selama ini menurut saya gagal mencoba melakukan seleksi terhadap kader-kader pemimpin, yang sebetulnya menjadi tanggung jawab yang keharusan teman-teman di partai politik."
"Karena yang di sodorkan sebetulnya adalah bukan kompetensi atau kemampuan kepemimpinan tetapi yang ada adalah relasi lain yang dilihat disitu, "katanya, Senin (16/12/2024).
"Misalnya, mereka yang disodorkan kepala daerah oleh partai politik itu, adalah orang-orang sebetulnya punya, tidak saja yang sebagaimana kita inginkan sebetulnya ekspektasi kita sebetulnya, yang penting memiliki kemampuan atau kapabilitas kemampuan yang mumpuni."
"Tetapi, selama ini yang terjadi, adalah mereka-mereka yang disodorkan memiliki relasi atau orang-orang yang sebetulnya, juga pertimbangan utamanya adalah dia memiliki modal atau tidak."
"Itu yang sehingga oligarki tetap saja menjadi bagian penting dalam praktek-praktek politik Demokrasi kita di bangsa ini, terutama di level lokal, "sambung Parto.
Adanya itu, lanjut Dosen Fisipol ini, sangat tidak menyetujui adanya regulasi tersebut, dimana Pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPR.
"Saya kurang setuju dengan, hal tersebut yang dipilih oleh DPR, kalau dalilnya adalah hanya untuk mengurangi atau paling tidak ada prinsip efektivitas atau efisiensi di situ, dalam soal pembiayaan, maka hemat saya tidak ada jaminan untuk itu, mengapa? Karena mereka yang maju atau disodorkan oleh partai politik, untuk menjadi kepala daerah, baik Gubernur, Bupati dan Wali Kota itu juga toh, pendekatannya, pendekatan mereka yang memiliki modal, "cetusnya.
Dilaporkan Dugaan Penelantaran Istri, Sekda Pulau Morotai Muhammad Umar Ali Ajukan Cerai |
![]() |
---|
Ini Kata Sekda Pulau Morotai Muhammad Umar Ali Soal Laporan Penelantaran Istri |
![]() |
---|
BREAKING NEWS: Sekda Pulau Morotai Diperiksa Polda Maluku Utara, Buntut Laporan Istrinya |
![]() |
---|
Musda Hipmi Maluku Utara, Pengusaha Muda Soroti Pencalonan Wabup Morotai Rio Pawane |
![]() |
---|
Tahun Depan, Kantor Dua Polsek di Morotai Dibangun |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.