Konflik di Halmahera Tengah
Bentrok di Halmahera Tengah, 250 Polisi dan TNI Jaga Perbatasan Desa Banemo dan Sibenpopo
Kehadiran mereka untuk meredam bentrok antarwarga dari dua desa bertetangga tersebut yang terjadi Jumat (3/4/2026) pagi.
Beberapa warga yang terlibat bentrok membawa parang dan tombak serta benda berbahaya lainnya.
Dalam insiden itu, massa yang tersulut emosi membakar beberapa fasilitas umum. Termasuk pos polisi setempat.
Saat berita ini dibuat, Sabtu (4/4/2026) sore, situasi di lokasi kerusuhan berangsur mulai terkendali.
Pernyataan Sherly Laos
Gubernur Maluku Utara Sherly Laos mengaku telah menerima laporan berkait kerusuhan di Halamhera Tengah.
Ia pun menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Malut mendorong penyelesaian melalui pendekatan dialogis serta penegakan hukum yang adil.
Sherly Laos menekankan bahwa setiap persoalan pada dasarnya dapat diselesaikan melalui komunikasi yang terbuka dan saling menghormati.
Ia juga mendorong keterlibatan tokoh masyarakat, tokoh agama, serta unsur pemerintah daerah dalam membangun kembali kepercayaan antarwarga.
Menurutnya, kehadiran Wakil Gubernur dan Wakapolda di lokasi merupakan langkah penting untuk menjaga stabilitas sekaligus memastikan bahwa penanganan situasi berjalan secara tenang, terukur, dan berimbang.
“Kehadiran pemerintah dan aparat di lapangan adalah untuk menenangkan, melindungi, dan memastikan situasi tidak berkembang lebih jauh,” tambahnya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tetap bijak dalam menyikapi informasi yang beredar, khususnya di media sosial, serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang belum terverifikasi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/wagub-malut-konflik-halteng.jpg)