Terkini Internasional
Akhir 2021, Negara-negara Kaya Diperkirakan Punya Surplus 1,2 Miliar Dosis Vaksin Covid-19
Negara-negara kaya di dunia berpotensi memiliki surplus lebih dari satu miliar dosis vaksin Covid-19 pada akhir tahun 2021 mendatang.
TRIBUNTERNATE.COM - Dalam menghadapi pandemi Covid-19, vaksin adalah salah satu upaya yang ada saat ini untuk menekan angka risiko gejala parah, hospitalisasi, maupun angka kematian.
Namun, program pengadaan vaksin Covid-19 secara global tak berjalan tanpa hambatan.
Salah satu tantangan terbesar dalam upaya vaksinasi Covid-19 adalah ketidakmerataan atau ketimpangan vaksin.
Sebuah analisis baru menyebutkan, negara-negara kaya di dunia berpotensi memiliki surplus lebih dari satu miliar dosis vaksin Covid-19 pada akhir tahun 2021 mendatang.
Sebagian besar dari surplus itu adalah vaksin Covid-19 yang tidak ditetapkan sebagai sumbangan untuk negara-negara miskin.
Dikutip dari Al Jazeera, stok vaksin di negara-negara Barat telah mencapai 500 juta dosis hanya pada bulan ini saja.
Dari jumlah itu, sebanyak 360 juta dosis vaksin tidak dialokasikan untuk sumbangan.
Hal ini diungkap oleh sebuah penelitian baru yang diadakan perusahaan analisis data Airfinity.
Baca juga: Kasus Aktif Covid-19 hingga BOR RS Nasional Turun Signifikan, Jokowi: Jangan Disalahartikan, Bahaya
Baca juga: Capaian Vaksinasi Covid-19 Rendah, 9 Daerah Disorot oleh Jokowi, Ada Aceh hingga Papua
Pada akhir tahun 2021, negara-negara ini berpotensi memiliki surplus 1,2 miliar dosis vaksin Covid-19, yang mayoritasnya - sebanyak 1,06 miliar - tidak ditujukan sebagai sumbangan.
Laporan lengkap yang berfokus pada pasokan vaksin yang tersedia di Amerika Serikat, Inggris, Uni Eropa, Kanada, dan Jepang ini akan diterbitkan pada 7 September 2021.
Ketidaksetaraan dosis vaksin secara global telah dikecam oleh banyak tokoh dan pejabat kesehatan terkemuka.
COVAX, skema pembagian vaksin Covid-19 global yang didukung PBB, pada awalnya bertujuan untuk memberikan dua miliar dosis vaksin kepada orang-orang di 190 negara pada tahun ini – termasuk 92 negara berpenghasilan rendah – sehingga memastikan setidaknya 20 persen populasi divaksinasi.
Namun, kesepakatan negara-negara kaya dengan produsen vaksin telah membatasi ketersediaan vaksin untuk skema COVAX dan menyebabkan penimbunan vaksin.
Baca juga: Diduga Resisten terhadap Vaksin, WHO Pantau Varian Virus Corona Baru B1621 atau Mu
Baca juga: Krisis Iklim, PBB Peringatkan Manusia Timbulkan Dampak yang Tak Dapat Diubah Lagi bagi Bumi
Baca juga: AS Perkirakan Perang Saudara akan Terjadi di Taliban dan Bisa Menjadi Awal Mula Kelompok Teroris
Pada Minggu (5/9/2021), Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan pada pertemuan para menteri kesehatan negara-negara G20 bahwa ketidakadilan global terhadap vaksin adalah hal yang “tidak dapat diterima”.
Mengingat bahwa lebih dari 5 miliar vaksin telah diberikan di seluruh dunia, dia mengatakan hampir 75 persen dari dosis tersebut hanya diberikan di 10 negara.
Sementara, cakupan vaksinasi di Afrika baru 2 persen, katanya.
Pernyataan Tedros Adhanom Ghebreyesus juga digaungkan oleh John Nkengasong, kepala Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika).
John Nkengasong menggambarkan peluncuran vaksin di kawasan Afrika sebagai "kekecewaan total".
Pada Minggu, mantan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown menuding negara-negara kaya memicu "kemarahan moral" dengan menimbun vaksin Covid-19, sementara negara-negara miskin kesulitan untuk mendapatkan pasokan vaksin.
Gordon Brown, yang merupakan utusan khusus PBB, meminta Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden dan para pemimpin negara Group of Seven (G7) lainnya untuk segera mengirimkan vaksin dari gudang di Amerika dan Eropa ke wilayah Afrika.
"Kita berada dalam perlombaan 'senjata' baru - yakni menyuntikkan vaksin ke masyarakat secepat mungkin - tetapi ini adalah perlombaan senjata di mana negara-negara Barat memiliki cengkeraman kuat pada ketersediaan pasokan vaksin," kata Gordon Brown.
Penimbunan juga telah membuat pembagian vaksin oleh negara-negara G7 kepada Afrika dan negara-negara berpenghasilan rendah tertunda, tambah Brown.
Sementara, Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta negara-negara G20 untuk menukar jadwal pengiriman vaksin jangka pendek dengan COVAX, untuk memenuhi janji pembagian vaksin pada akhir bulan ini.
Ia juga meminta mereka untuk memfasilitasi dan mendukung pembuatan vaksin regional dengan berbagi teknologi, pengetahuan dan kekayaan intelektual.
Sumber: Al Jazeera
(TribunTernate.com/Rizki A.)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/vaksin-covid-hfbvij.jpg)