Rabu, 13 Mei 2026
Halmahera Timur
Halmahera Timur Berbenah Menuju Transformasi Kemajuan

Virus Corona

Dirjen WHO Minta Distribusi Vaksin Covid-19 ke Negara Miskin Bukan Hanya Sekadar Janji Kosong

Dirjen WHO menyoroti bagaimana negara-negara miskin 'kalah' dengan negara kaya dalam melakukan kesepakatan distribusi vaksin dengan para produsen.

Tayang:
AFP/FABRICE COFFRINI
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss, Rabu (11/3/2020), menyampaikan penilaian bahwa virus corona jenis baru (COVID-19) sebagai pandemi. 

TRIBUNTERNATE.COM - Dalam menghadapi pandemi Covid-19, vaksin adalah salah satu upaya yang ada saat ini untuk menekan angka risiko gejala parah, hospitalisasi, maupun angka kematian.

Namun, distribusi vaksin Covid-19 ke negara-negara miskin atau berpenghasilan rendah di dunia menjadi sorotan.

Pada Rabu (8/9/2021), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan negara-negara berpenghasilan rendah siap untuk menjalankan kampanye vaksinasi Covid-19 yang efektif.

Namun, pelaksanaan vaksinasi itu juga tergantung pada produsen dan negara-negara kaya untuk memberikan dosis vaksin Covid-19 yang dijanjikan demi mengurangi ketimpangan dalam bidang kesehatan global.

Sekitar 80 persen dari 5,5 miliar dosis vaksin yang telah diberikan secara global saat ini ditujukan ke negara-negara berpenghasilan tinggi dan menengah ke atas, kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam jumpa pers, Rabu sebagaimana dikutip dari Channel News Asia.

Baca juga: China Bangun Pabrik Vaksin di Indonesia, Diklaim Setara Pfizer, PKS Ingatkan Vaksin Merah Putih

Baca juga: Akhir 2021, Negara-negara Kaya Diperkirakan Punya Surplus 1,2 Miliar Dosis Vaksin Covid-19

Baca juga: Negara Miskin Masih Kesulitan Vaksin, Negara Kaya Justru akan Miliki 1,2 Miliar Vaksin Covid-19

"Kami telah mendengar alasan dari para produsen vaksin Covid-19 dan beberapa negara berpenghasilan tinggi tentang bagaimana negara berpenghasilan rendah tidak dapat menyerap vaksin," kata Tedros.

Ia menambahkan, hampir semua negara berpenghasilan rendah telah menunjukkan kemampuan untuk menjalankan kampanye imunisasi skala besar untuk polio, campak, dan penyakit lainnya.

Namun, Tedros menyoroti bagaimana negara-negara miskin 'kalah' dengan negara kaya dalam melakukan kesepakatan distribusi vaksin dengan para produsen.

"Karena produsen telah memprioritaskan atau diwajibkan secara hukum untuk memenuhi kesepakatan bilateral dengan negara-negara kaya yang bersedia membayar dolar tinggi, negara-negara berpenghasilan rendah telah kehilangan alat untuk melindungi rakyat mereka," katanya.

Baca juga: PBB Sebut Taliban Berjanji untuk Menjamin Keselamatan Pekerja Kemanusiaan di Afghanistan

Baca juga: Krisis Iklim, PBB Peringatkan Manusia Timbulkan Dampak yang Tak Dapat Diubah Lagi bagi Bumi

Baca juga: Diduga Resisten terhadap Vaksin, WHO Pantau Varian Virus Corona Baru B1621 atau Mu

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss, Rabu (11/3/2020), menyampaikan penilaian bahwa virus corona jenis baru (COVID-19) sebagai pandemi.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss, Rabu (11/3/2020), menyampaikan penilaian bahwa virus corona jenis baru (COVID-19) sebagai pandemi. (AFP/FABRICE COFFRINI)

WHO telah menetapkan target untuk memungkinkan setiap negara memvaksinasi setidaknya 40 persen dari populasi penduduknya pada akhir tahun ini.

Tedros juga mengatakan pengiriman vaksin ke negara-negara miskin perlu didorong agar hal ini tercapai.

Lebih dari 221 juta orang telah dilaporkan terinfeksi oleh virus corona secara global dan 4,76 juta di antaranya telah meninggal dunia selama pandemi Covid-19 yang telah berlangsung lebih dari 1,5 tahun terakhir, menurut penghitungan Reuters.

Program global yang menyediakan vaksin Covid-19 ke negara-negara miskin berada di jalur yang baru mendekati 30 persen dari target sebelumnya, yaitu 2 miliar dosis vaksin tahun ini, kata organisasi internasional yang menjalankannya.

Kepala Aliansi Vaksin GAVI, di antara sponsor fasilitas skema berbagi vaksin COVAX, menuding penyebab pemotongan distribusi vaksin tersebut ada pada berbagai faktor, termasuk pembatasan ekspor pada Serum Institute of India (SII) serta masalah manufaktur.

Sementara itu, Tedros mengatakan para menteri dari 20 negara terkaya dunia telah meyakinkannya bahwa mereka akan melakukan segalanya untuk mencapai target 40 persen tahun ini.

"Sekarang saatnya untuk kepemimpinan sejati, bukan janji kosong," tambahnya, menagih janji negara-negara kaya tersebut.

Sumber: Channel News Asia

(TribunTernate.com/Rizki A.)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved