Opini
Jembatan Laut Maluku Utara: Angkutan Perintis Ciptakan Pemerataan Ekonomi
Berkat adanya angkutan penyeberangan perintis, pemerataan ekonomi di Maluku Utara semakin terwujud
Djoko Setijowarno
Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata
Berkat adanya angkutan penyeberangan perintis, pemerataan ekonomi di Maluku Utara semakin terwujud.
Program ini juga mempermudah mobilitas masyarakat dan memperkuat rantai pasok barang di seluruh wilayah.
Provinsi Maluku Utara adalah provinsi dengan 10 Kabupaten/Kota, merupakan kepualauan strategis di timur Indonesia dengan lebih 975 pulau dan 80 persen wilayah berupa perairan.
Kondisi geografis yang tersebar dan bergunung membuat konektivitas antarwilayah sangat bergantung pada keterpaduan transportasi darat dan laut (Bappeda Maluku Utara, 2025).
Memiliki potensi besar di sektor pertambangan, perikanan, dan Perkebunan, dengan kawasan strategis, seperti Kawasan Industri Weda, Kawasan Industri Buli, Kawasan Industri Obi, Morotai dan Sofifi sebagai simpul industri, logistik dan pemerintahan menjadikan Maluku Utara sebagai poros pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia Timur.
Konektivitas wilayah perairan
Tantangan geografis menjadi salah satu faktor utama ketimpangan antarwilayah di Provinsi Maluku Utara. Jarak antar pulau yang jauh, terpisah oleh laut, sulitnya akses transportasi, dan keterbatasan sumber daya alam di beberapa wilayah menjadikan pembangunan di daerah yang satu berjalan lebi lambat dibandingkan dengan wilayah di daratan utama di pulau-pulau besar. Akses yang sulit ini menyebabkan biaya logistic menjadi sangat tinggi.
Pada akhirnya berdampak pada harga barang dan jasa yang lebih mahal serta minimnya ketertarikan investasi dari sektor swasta.
Layanan transportasi penyeberangan memainkan peran krusial dalam menghubungkan wilayah 3TP (Terpencil, Terluar, Tertinggal, dan Perbatasan) dengan daerah-daerah yang lebih maju.
Keterhubungan ini secara langsung membuka akses bagi penduduk 3TP untuk mendapatkan berbagai layanan dan fasilitas yang lebih baik.
Untuk menjamin kualitas dan kontinuitas layanan angkutan penyeberangan, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai adalah kunci. Dengan kapal yang laik, fasilitas pelabuhan yang optimal, serta dukungan operasional yang prima, layanan dapat berjalan aman, tepat waktu, dan berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Keberadaan angkutan penyeberangan perintis memiliki peran ganda, yaitu menciptakan pemerataan ekonomi dan meningkatkan konektivitas sosial. Layanan ini secara fundamental membuka akses agar wilayah 3TP tidak lagi terisolasi.
Dampak ekonominya pun signifikan; layanan ini mendukung UMKM dan perdagangan lokal dengan mempermudah distribusi produk ke pasar yang lebih luas, serta memperkuat sektor pariwisata dengan mempermudah akses wisatawan ke berbagai destinasi antarpulau, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/ternate/foto/bank/originals/Opini-_Djoko-Setijowarno-Akademisi-Prodi-Teknik-Sipil-Unika-Soegijapranata_.jpg)